Menjadi Orang Dewasa Itu Tidak Enak?

Ilustrasi: papuanews.id

"Ada sebuah pembelajaran hidup yang bisa kita ambil dari seorang anak kecil."

Suatu hari, saya sedang duduk-duduk santuy di halaman rumah teman. Di sebrang jalan, tak jauh dari situ, ada sebuah SD.

Pada waktu itu, kebetulan bertepatan dengan jam istirahat. Alhasil, banyak murid SD yang keluar dari kelas. Ada yang berlarian ke lapang, ada yang bercengkrama sambil berkerumun, dan banyak pula yang pergi ke belakang sekolah, sebab disana banyak penjual jajanan.

Seorang teman wanita yang sedang duduk di samping saya tiba-tiba nyeletuk, "Enak yah jadi anak kecil."

"Loh, kenapa?" kata saya.

"Ya enak aja. Hidupnya belum punya beban."

Saya hanya menggangguk dan tersenyum. Menandakan kalau saya setuju. Walaupun dalam hati saya, perkataannya bisa didebatkan.

Tapi saya tak mau meruntuhkan pendapatnya yang terlanjur kagum dengan pesona anak-anak SD itu. Sepertinya dia senang melihat mereka menunjukan wajah cerianya. Apalagi mereka yang sedang bermain di lapangan sambil berlarian membawa bola.

Kemudian, saya mencoba mendebatkan hal itu dalam hati. Benarkah menjadi anak kecil itu enak? Dan sebaliknya, menjadi orang dewasa itu tidak enak?

Kalau berkaca pada diri saya pribadi. Saya bisa katakan, "Ya, itu benar!"

Kenapa? Karena dulu, saya menjalani kehidupan menyenangkan bersama masa kecil saya. Saya tidak memikirkan tanggung jawab besar sebagaimana orang dewasa. 

Saya lahir di keluarga yang demokratis. Bebas, saya mau ngapain yang penting tahu batasan. Mereka tidak memaksa saya harus ikut kegiatan ini, harus ikut les itu, harus bisa ini, bisa itu dan seterusnya.

Pendidikan orang tua saya kepada anak-anaknya lebih santuy dibandingkan beberapa teman seangkatan saya. Saya merasa waktu kecil itu hidup saya hampir tanpa beban. 

Hampir loh, bukan berarti tidak punya beban sama sekali. Beban terberat saya pada saat SD mungkin hanya sebatas belum bisa cebok pantat sendiri dan pasang sepatu tali sendiri. Sesederhana itu.

Bagaimana setelah dewasa? Mungkin, sebagaimana orang dewasa pada umumnya, beban hidup itu mulai bermunculan. Akhirnya saya sadar akan memikul tanggung jawab hidup yang besar. 

Belum lagi ego sedang tinggi-tingginya. Ditambah setiap orang dewasa pasti punya mimpi. Mimpi inilah yang di satu sisi memberi penyemangat, di sisi lain bisa jadi beban.

Hal yang menakutkan dari menjadi orang dewasa sebetulnya, kita harus bisa mengendalikan diri dalam menerima pengaruh dari luar. Sebab hal itu yang bisa jadi masalah.

Kita seolah di tuntut untuk menjadi seperti yang orang lain inginkan. Akhirnya kita melakukan standarisasi terhadap hal-hal yang secara umum menurut orang lain dianggap ideal. 

Di lain pihak, kita punya standar sendiri tentang hidup kita. Dan itu terkadang bersebrangan dengan standar orang lain, terutama standar di circle kita sendiri.

Apa anak kecil memikirkan standar hidup ideal atau semacamnya? Tidak. Kenapa? Karena anak kecil tidak kepikiran sampai ke situ. Atau, anak kecil belum tahu tuntutan hidup yang sebenarnya.

Tapi coba deh sedikit di renungkan. Jadi letak kesalahannya dimana? Letak kesalahannya ada di pengetahuan kita. Anak kecil tidak pernah memikirkan tentang bagaimana mengikuti tuntutan hidup orang lain bahwa kita harus begini dan begitu. 

Tapi bukankah itu yang membuat anak kecil jadi merasa hidupnya tanpa beban? Nah, kalau kita merasa ingin hidup seperti anak kecil harusnya kita juga melakukan apa yang anak kecil lakukan? Bukankah begitu?

Maksudnya begini.

Orang dewasa cenderung terlalu memikirkan omongan orang lain, memikirkan standar hidup mereka, memikirkan segala hal yang menurut orang lain baik, meskipun keyataannya tidak semuanya baik.

Sedangkan anak kecil, hampir tidak memikirkan itu semua. Anak kecil hanya melakukan apa yang mereka suka. Tanpa beban. Tanpa tersudutkan dengan standar hidup orang lain.

Jadi jika kita ingin mencuri kebahagiaan-kebagiaan yang di rasakan anak kecil, maka kuncinya kita harus memulai kehidupan yang lebih sederhana, lebih bebas tanpa memikirkan apa yang orang katakan.

Karena kalau kita sejenak mencoba melupakan tuntutan orang lain, melupakan sejenak nyinyiran atau omongan orang lain, maka hidup kita bisa sedikit lebih tenang seperti anak-anak SD dengan segala kehidupannya yang menyenangkan.

Apa itu mudah? Tidak. Selama bertahun-tahun menjadi orang dewasa, alam  bawah sadar kita terlanjur membentuk pola pikir yang salah. 

Sehingga, untuk belajar hidup yang lebih sederhana seperti halnya anak kecil, tidak semudah yang dipikirkan. Dan itu jadi tantangan bagi kita, para orang dewasa.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram