#9 Dibalik Nulis: Edit Dulu, Edit Lagi, Edit Terus

Jika saya baca tulisan-tulisan saya sendiri 1-2 tahun yang lalu, saya akan sadar kalau tulisan tersebut kacau. Dari kalimat, tanda baca, paragraf, dan EYD/EBI-nya tidak tersusun dengan baik.

Kalau masalah EYD/EBI sebetulnya sampai sekarang pun saya tidak terlalu memperdulikannya karena tulisan saya sengaja dibuat tidak terlalu baku. Saya ingin membuat tulisan yang bisa di mengerti di banyak kalangan.

Jadi, saya berusaha menghindari kata-kata terlalu akademis. Meskipun, jika kalian perhatikan, ada saja kata yang mungkin bagian kalian terkesan menggunakan bahasa tingkat tinggi.

Untuk hal lain, masalah penulisan sedikit demi sedikit bisa teratasi. Walaupun, sampai sekarang masalah itu masih jadi PR banget buat saya.

Edit, edit, edit

Mengedit tulisan adalah hal yang kadang merepotkan dan mengundang rasa malas. Sebab, jangankan menulis, untuk memulai menulis saja butuh motivasi yang besar karena tantangannya adalah perasaan untuk menunda-nunda. 

Setelah motivasi itu muncul, kemudian mulai mengumpulkan niat, memikirkan ide, merangkai kalimat. Dan itu saja sudah jadi butuh effort besar juga. 

Belum lagi cobaan tersulit adalah melawan mood dan semangat menulis. Jika ditambah lagi dengan urusan edit mengedit, itu jadi beban kedua yang tak kalah berat.

Kalau penulis profesional yang bekerja di sebuah media atau penulis di penerbitan buku, proses editing bisa dilakukan oleh editor. Jadi editing itu sudah ada bagiannya tersendiri. 

Penulis hanya bertugas membuat tulisan yang baik, setelah itu kesalahan teknis seperti tanda baca dan kesalahan penulisan kata bisa diserahkan kepada sang editor.

Kalau penulis/blogger yang notabene bekerja lepas seperti saya, semuanya harus dilakukan sendiri. Menulis dan mengedit dilakukan oleh satu orang. Jadi kerjanya dua kali.

Namun bukan berarti penulis profesional tidak pernah mengedit tulisannya ya. Sebab setiap penulis hakekatnya adalah editor bagi tulisannya sendiri. 

Tapi poin utama yang ingin saya sampaikan sebenarnya, betapa proses editing tulisan itu terkadang bisa lebih berat ketimbang hanya menulis saja. 

Kita bisa menulis satu topik dalam 15 menit misalnya. Tapi proses editingnya bisa memakan waktu satu jam. Itu contoh yang mungkin related bagi kalian yang terbiasa menulis.

Atau bisa jadi sebetulnya kalian termasuk orang yang menulis sekali jadi. Jadi tanpa merombak editing terlalu detail, langsung main publish saja.

Tidak apa-apa sih. Toh banyak orang yang memang "berbakat" menulis sehingga jarang melakukan kesalahan dalam menulis. Jadi editing minim pun sudah cukup.

Namun, kalau kalian senasib dengan saya. Yang butuh meluangkan waktu khusus yang lumayan panjang untuk mengedit tulisan, bagi saya itu ya tidak masalah. Problem itu masih bisa diatasi kok.

Kalau dalam kasus saya, seringkali terjadi, saya menulis tak sampai dua jam, tapi karena saya sadar tulisannya belum rapih dan masih banyak salah-salah kata, kalimat, tanda baca dan seterusnya, jadi saya harus edit lagi berkali-kali.

Saya baca tulisan saya dari awal sampai akhir. Jika masih ada yang salah, saya edit. Setelah di edit, saya baca lagi. Lalu di baca ulang lagi, edit lagi, baca lagi, edit lagi, baca lagi. Terus saja seperti itu sampai saya benar-benar merasa tulisan saya sudah baik.

Bahkan sudah berkali-kali saya editpun ternyata sering ada yang luput dari perhatian saya. Masih ada satu dua kata atau kalimat yang tidak enak dibaca-lah, tanda bacanya salah lah, atau typo-lah.

Yang paling sering sih typo ya. Saking sering typo-nya, sampai ada teman saya yang ngeh kalau saya ini tiap bikin tulisan, pasti saja ada yang typo.

Padahal, saya sudah bilang sama teman saya itu, kalau saya sudah edit berkali-kali, kok masih saja ada yang typo. Perasaan tulisan sudah saya baca dengan teliti tapi masih ada yang terlewat.

Ya begitulah duka dari proses editing saya. Saya harap kalian yang sama-sama sedang mengembangkan kemampuan menulis tetap semangat meski urusan edit-mengedit jadi tahapan yang tidak mudah.

Foto: redbubble.com

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram