Keluyuran Naik Motor


Dulu, motor jadi alat transfortasi paling populer buat anak-anak muda. Apalagi ketika motor jadi barang yang mudah di jangkau segala lapisan masyarakat. Sudah cicilan motor syaratnya makin mudah. Hal itu yang membuat masyarakat yang ekonominya kelas menengah kebawahpun mampu membelinya.

Yang buat miris, penggunaan motor seringkali keliru. Kesadaran soal safety raiding masih rendah. Belum lagi banyak pengguna motor yang belum cukup umur.

Saya ingat ketika saya SD, banyak teman-teman yang sudah bisa naik motor. Bukan cuma naik motor tapi mengenderai motornya ya. Padahal, motor itu idealnya digunakan oleh orang yang memang usianya sudah memenuhi syarat.

Poin saya sebetulnya, saya ingin memgatakan kalau sejak banyak orang bisa memiliki sebuah motor, pola berpergian kita jadi sangat berubah.

Ada orang yang kemana-mana naik motor. Pergi kerja baik motor, pergi ke Mall naik motor. Ke warung di belakang rumah juga naik motor. Padahal, jalan kaki saja bisa. Itu jadi kritik kita bersama sih sebetulnya. Termasuk saya. Hehe.

Tak cuma kritik, manfaat motor pun tidak sedikit. Saya merasakan sendiri betapa berharganya sebuah motor bagi saya. Oleh karena saya baru bisa motor pas SMA, saya mulai mengeksplor kendaraan roda dua ini kemana saja yang saya mau.

Ketika SMA, kehidupan saya hanya sebatas pergi sekolah lalu pulang ke rumah. Kalau weekend, paling pergi keluar, jalan-jalan, itu pun naik mobil keluarga. Jarang sekali saya gunakan motor diluar kepentingan sekolah. Bahkan kalau ada acara tertentu atau mengerjakan tugas di rumah teman, saya lebih memilih nebeng motor teman.

Namun seiring berjalannya waktu, apalagi setelah kuliah, saya mulai sadar bahwa motor yang saya punya fungsinya bisa dimaksimalkan. Bukan! Saya tidak kepikiran untuk jadi ojol. Yang saya pikirkan adalah saya bisa gunakan motor untuk bermobilisasi.

Lah bukannya selama ini gunanya sepertu itu?

Yap, benar. Tapi, seperti yang ceritakan, saya hanya menggunakan motor secara terbatas. Ada hal yang bisa saya lakukan seperti keluyuran. Atau lebih tepatnya jalan-jalan.

Saya pernah disindir oleh seorang teman. Dia bilang, "katanya orang tasik, tapi kok ga tau jalan?"

Tidak ada yang salah dengan kata-kata teman saya itu. Memang kenyataannya begitu kok. Justru, saya tidak tahu banyak jalan karena saya hanya melewati jalan yang itu-itu saja setiap hari. Saya kurang tahu jalan tikus.

Tapi semenjak itu, saya sadar untuk bisa mengeksplore banyak jalan di kota tempat saya lahir ini. Sudah beberapa tahun ini saya punya kebiasaan jalan-jalan yang tidak biasa.

Bukan jalan-jalan pergi ke suatu tempat, tapi cuma keluyuran enggak jelas. Jadi saya mencoba masuk ke jalan-jalan yang belum  pernah saya lewati.

Saya tidak gunakan google maps, hanya menggunakan feeling. Kalau tersesat pun tidak apa-apa. Namanya juga lagi belajar mengingat jalan baru.

Saya tidak melakukannnya setiap hari. Hanya waktu-waktu senggang tertentu. Itupun kalau saya sedang ingin melepas penat atau sedang lagi banyak pikiran.

Keluyuran enggak jelas sambil mengendarai motor itu bisa sedikit nge-distract pikiran saya yang penuh dengan beban.

Entah kenapa saya pun merasa saat mengendarai motor, pikiran negatif itu hilang setengahnya. Di motor, saya sering ngomong sendiri.

Dalam artian, saya sering berbicara soal apa yang isi kepala saya pikirkan. Tapi ya bodo amat toh helm saya full face juga. Jadi tidak ada yang melihat mulut saya komat-kamit sendiri.


Lintasjurnal.com

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram