Bisakah Kita Keluar dari Fanatisme?


Fanatik

Saya masih menimbang-nimbang apakah fanatisme itu termasuk sikap yang baik atau tidak? Karena fanatik terkadang dilihat sebagai bentuk kesetiaan atau loyalitas. Tapi sisi lain bisa menutup mata dan pikiran untuk berpikir objektif.

Tapi seperti yang sering kita lihat, fanatisme banyak memakan korban. Fanatisme memberi dampak buruk bagi banyak orang. Orang-orang fanatik jadi susah dinasehati. Mereka tidak percaya pada hal apapun yang bukan dari internal mereka.

Mereka meyakini apa yang mereka anggap benar. Ya, sebetulnya ini tidaklah salah. Tapi bukankah lebih baik jika seseorang terbuka pada pada semua kemungkinan.

Semisal, membuka diri pada pemikiran orang lain yang bahkan bersebrangan dengan kita. Hal itu dilakukan agar kita bisa menerima banyak input baru dalam diri.

Bagi sebagian orang, fanatik pada tokoh atau idola tertentu merupakan bentuk loyalitas. Tapi kita mesti sadar juga bahwa fanatisme harus ada batasannya juga. 

Masalahnya, kita yang sudah masuk ke dalam lingkaran fanatisme, tidak akan menyadari dimana batas itu berada. kita  tidak tahu apa kita sudah melebihi batas atau tidak. Kalau sudah fanatik, batasan-batasan itu jadi tidak terlihat.

Maka sudah sebaiknya kita memberikan sikap atau mencoba untuk mengurangi fanatisme itu sendiri. Meski diakui sangat sulit, tetapi apa salah kalau tidak mencoba bukan?

Apa fanatisme bisa dihilangkan? Bagi saya, jawabannya bisa. Untuk menghilangkan cara memang tidak mudah. Tapi untuk menguranginya sedikit demi sedikit saya rasa bisa dilakukan siapa saja selama kita mau melakukannya.

Ini beberapa cara yang pernah saya lakukan juga.

Pertama, keluar dari filter bubble. Ini cara yang paling krusial. Kenapa? Fanatisme muncul karena tidak adanya sumber informasi yang objektif terhadap tokoh yang kita idola. 

Kita hanya memperoleh informasi dari satu sumber saja. Bisa jadi sumber itu tidak  subjektif bahkan tidak kritis.

Kita perlu mendengar dan membaca tentang idola kita dari banyak kepala, dari banyak media sehingga perspektif kita tentang dia bisa seimbang.

Kedua, mencoba menelan berita buruk terhadap tokoh yg kita sukai. Ketika kita memutuskan untuk membuka diri terhadap segala kemungkinan terburuk, kita mesti siap bahwa idola kita juga manusia yang hakekatnya akan melakukan kesalahan.

Sebaik-baiknya dia, secinta-cintanya kita pada dia, bukan berarti kita buta seolah dia malaikat tak bersayap yang tak punya dosa.

Ketiga, jangan menyangkal atau menyerang. Jika ada pihak atau segelintir orang yang tidak suka dengan idola kita. Jangan dulu di serang. Berikan sedikit kemungkinan bahwa bisa jadi mereka yang tidak suka itu ada benarnya juga. Loh kok begitu? Iya memang begitu.

Ketidaksukaan mereka bila masih didasari atas kritik, saya rasa tidak boleh langsung di sangkal. Walaupun saya menyadari sendiri jika saya ada di posisi sedang fanatik pada seseorang, pasti akan menyangkal habis-habisan semua serangan negatif dari luar.

Tapi saya sadar itu tidak selamanya baik. Ketika ada omongan buruk tentang toloh idola kita, saya berusaha sedikit objektif. Dalam arti menurunkan ego saya dan mengingatkan diri saya untuk berpikir realistis.

Sekalipun informasi buruk menimpa idola saya. Saya berusaha untuk menelan pil pahit itu sementara waktu.

Jika memang sulit dilakukan. Lebih baik diam. Jangan cari pembenaran. Lihat saja apa yang akan terjadi kedepan. Dan kalaupun informasi buruk tentang sang idola itu benar, sikapi semuanya dengan bijak.

Ketiga, mengenal lebih jauh tentang "musuh". Mereka yang tidak suka dengan tokoh yang kita idolakan, tidak semata-mata tidak suka begitu saja. Pasti ada sebabnya. Mungkin sebab itu merupakan sesuatu yang kita sendiri tidak suka. 

Tetapi jika perlu, kita bisa mengenali kenapa mereka tidak suka dengan idola kita. Kita pahami ketidaksukaannya itu. Siapa tahu sedikit hal yang mereka tidak sukai ada sedikit kebenaran. 

Keempat, sisanya sedikit sifat ragu. Orang fanatik biasanya langsung percaya atas semua omongan idola. Percaya boleh saja, tapi sisanya sedikit rasa ragu. Mungkin persentasenya bisa 80 dan 20.

80% percaya dan 20% ragu.

Ini dilakukan agar kita diajak untuk selalu kritis meskipun kita fanatik pada seseorang. Keraguan yang kita keluarkan akan membuat diri kita lebih waspada sekalipun dia orang yang sangat di percaya. 

Foto: santrionline.net

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram