Adik. Ibu. Pertengkaran.

Bertengkar

Dulu saya pernah bertengkar dengan adik saya hanya karena channel televisi. Saya ingin menonton kartun. Sedangkan adik ingin menonton satu acara yang pada waktu itu saya lupa namanya. Kemudian kami saling mengejek. 

Dan tiba-tiba saya spontan memukul kaki adik saya yang sedang rebahan depan tv. Dia marah dan meninggalkan saya. 

Itu adalah salah satu pertengkaran kami di masa kecil. Kebiasaan bertengkar itu sudah jadi kebiasaan. Dan kami bertengkar tak cuma sekali-dua kali. Tapi hampir setiap hari.

Saya jadi merasa gaya bertengkar ini sudah jadi tabiat yang terbawa sampai dewasa. Saya menyadari hal itu ketika beberapa hari yang lalu kami bertengkar. Pertengkaran itu adalah pertengkaran pertama kali setelah bertahun-tahun kami tak pernah bertengkar lagi. 

Persoalannya, kami mempertengkarkan hal-hal sepele yang dulu pernah kami lakukan di masa kecil. Saya jadi merasa flashback ke masa lalu.

Semasa kecil, saya ingat pernah menampar adik saya. Dia menangis. Saya menyesal. Tapi dilain hari saya melakukan kesalahan yang sama. 

Menjelang dewasa, intensitas bertengkar itu makin jarang. Meski sesekali masih terjadi, tapi Ibu mengakui bahwa pertengkaran kami saat ini bisa dihitung dengan jari.

Saya rasa faktor kenapa kami sudah jarang bertengkar lagi bukan saja karena kami sadar  bahwa kami bukan lagi anak kecil. Namun karena interaksi kami di rumah tidak seaktif dulu. Sekarang kami sibuk dengan dunia kami masing-masing.

Adik saya yang extrovert cenderung tidak bisa diam di rumah. Dia lebih banyak melakukan kegiatan di luar. Sedangkan saya sibuk dengan perkuliahan dan keansosan saya.

Di rumah, saya dan adik jarang mengobrol. Sebab ketika sedang ada di rumah pun, kami langsung masuk ke kamar masing-masing.

Kami baru keluar kamar kalau ada acara keluarga atau saat makan malam saja. Selebihnya kami mengobrol sesekali di kamar ibu yang berfungsi sebagai ruang untuk nonton TV.

Sebetulnya, hubungan saya dan adik baik-baik saja. Malah semakin baik setelah kami sudah jarang bertengkar. 

Kami pun saling mengerti satu sama lain semenjak ibu kami terkena stroke. Kami bergantian mengurusi ibu, memandikannya, menyuapinya dan mengurus segala keperluannya.

Kami saling berbagi tugas mengurus pekerjaan rumah dari mulai mencuci piring, mengepel, mencuci baju dan seterusnya. 

Di setiap awal bulan, kami pergi ke mall untuk memberi beberapa keperluan. Semacam belanja bulanan. Sebulan sekali, kami pun menyempatkan diri makan di restoran sebagai family time. 

Tak lupa kami mengajak kakak kami yang paling besar untuk hadir, sebab semenjak menikah dia tidak lagi tinggal di rumah.

Saya merasa saat ini kami berdua tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Terlepas dari masih punya egonya masing-masing.

Sejak dulu saya sadar bahwa kami terlahir di keluarga yang "tidak baik-baik saja". Maka dari itu,q segala masalah yang menimpa menuntut kami untuk lebih survive. 

Walaupun untuk beberapa hal kami sangat cengeng. Tetapi segala masalah yang terjadi di dalam keluarga adalah pembelajaran hidup yang sangat bermakna. Saya tidak berusaha terlalu meratapinya. 

Saya menganggap ini proses kehidupan yang harus dilalui saya, adik dan keluarga. Kami bersyukur karena anggota keluarga masih lengkap dan kebutuhan ekonomi selalu tercukupi. 

Foto: depositphotos

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram