Televisi Makin Sepi

Isu NET PHK

Isu PHK massal yang dilakukan stasiun televisi NET jadi permbincangan banyak orang. Bahkan masuk trending di twitter beberapa waktu lalu.

Meski pihak NET sudah membantah isu tersebut, tapi orang-orang tahu kalau TV dengan jargon 'televisi masa kini' ini sedang dalam kondisi tidak baik.

NET sendiri mengaku hanya memberikan kesempatan pada karyawannya yang ingin memgundurkan diri. Sebagai konpensasi, mereka akan diberi "bonus" yang besar.

Pernyataan ini justru dilihat oleh sebagian orang sebagai penghalusan kata-kata saja karena PHK dan memberi kesempatan untuk mengundurkan diri tidak ada bedanya dengan penyusutan karyawan. Dan hal itu sedikit menandakan ada sesuatu yang tidak beres dengan NET.

Kalau kita cukup memperhatikan, beberapa program NET banyak yang lengser. Selain karena kalah rating, NET sendiri mulai mengevaluasi strategi mereka.

NET kini tidak bisa seratus persen idealis dengan mengedepankan tayangan berkualitas saja, tapi harus juga realitistis. Sebab para penontonnya yang menyasar kelas menengah ke atas tidak bisa terlalu di andalkan.

Kenapa saya bisa tahu sedetail itu? Sebetulnya saya tidak terlalu memperhatikan. Saya hanya sering membaca referensi tulisan dari pengamat industri hiburan televisi. Dan kondisi NET yang saya sebutkan adalah realita NET yang sebenarnya.

Rasanya sedih juga melihat stasiun televisi yang berjuang demi sebuah tontotan berkualitas, harus kalah dengan rivalnya yang terlalu mendewakan rating dan share.

Sebagai orang awam, saya melihat televisi saat ini sudah kehilangan cukup banyak penonton loyalnya. Kenapa? Lihat saja, orang-orang lebih anteng duduk berjam-jam di depan laptop untuk menonton tayangan hiburan, baik itu program via streaming atau layanan berlangganan seperti Netflix.

Internet sendiri ikut merenggut penonton televisi yang kini lebih asik dengan smartphone-nya, membuka Youtube dan media sosial.

Kita menyadari saat ini hiburan visual sangat bervariatif. Jika kita bayangkan 10 tahun lalu, dimana televisi masih jadi hiburan utama.

Orang-orang dulu menghabiskan waktu luangnya di depan televisi, menonton program dikala santai atau selepas bekerja seharian. Beda dengan sekarang. Budaya nonton televisi bergeser ke budaya nonton lewat smartphone.

Yang jadi pertanyaan, apa suatu saat televisi akan bernasib sama dengan media cetak seperti koran yang kini eksistensinya telah lama mati? Saya rasa itu mungkin. 

Tetapi kita tidak tahu kapan itu terjadi. Mungkin beberapa tahun yang akan datang, televisi akan tetap bertahan meski harus terus bertempur dengan segala macam program dan hiburan yang mengandalkan internet.

Belum lagi masalah basic yang menimpa pertelevisian indonesia, yaitu soal sensor KPI. Banyak orang mengeluh dengan sensor KPI yang tidak masuk akal.

Klaim KPI Sebagai komisi yang melakukan berbagai tindakan preventif dianggap berlebihan. Bagaimana tidak berlebihan, bagian dada seekor tupai animasi saja di sensor kok. 

KPI nampaknya terlalu menyamakan logika orang tua dibandingkan memakai logika seorang anak kecil. Sebab, siapa juga anak kecil yang sange cuma karena lihat belahan tupai?

Bukan sampai situ saja. KPI juga sekarang sedang mewacanakan akan mengawasi platform lain seperti Youtube dan Netflix. Ini wacana yang aneh bukan?

Saya tidak tahu apa orang-orang KPI tidak mengetahui kalau di Youtube dan Netlix sendiri sudah ada aturan dan filter tertentu untuk mengawasi konten mereka sendiri.

Jadi KPI tidak perlu ikut-ikutan mengawasi. Toh kenyataannya sensor di televisi malah memicu kontroversi. Terlebih KPI pun bahkan seolah angkat tangan terhadap program-program televisi yang secara kualitas jauh dari kata baik.

Kita tahu eksistensi televisi sekarang sudah tidak secemerlang dulu. Walaupun selama beberapa dekade televisi di prediksi masih bisa bertahan tetapi eksistensinya saya yakin tak sekuat dulu.

Akhirnya, televisi yang dulu jadi pilihan utama konten hiburan, tapi sekarang hanya jadi platform alternatif. Televisi sekarang jadi semacam akseksoris ruangan yang memang ada fungsinya, tapi minat orang menggunakannya tidak sebesar dulu.

Foto: ngopibareng.id

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram