Mengikhlaskan yang Telah Hilang

Kehilangan

Ada banyak cerita buruk soal kehilangan. Tapi sebagai pembuka, mari kita jangan dulu kaitan ini dengan masalah percintaan. Itu basi. Atau Lebih tepatnya terlalu menyakiti.

Saya tidak ingin membawa suasana jadi sedih lagi. Kita coba bahas kehilangan dengan perspektif yang lebih luas. Lebih luas dari sekedar sakit gigi.

Pertama, kehilangan uang.

Siapa yang tidak pernah kehilangan uang? Pasti kita pernah merasa baru gajian 2 minggu yang lalu, tapi uang di ATM tinggal 50 ribuan. Hmm hilang kemanakah uangnya? Atau belum sampai seper-empat bulan dapat kiriman dari orang tua, tapi yang tersisa di dompet tinggal recehan.

Terkadang itu menyakitkan, iya kan? Saya jadi penasaran apa seorang Sultan seperti Hotman Paris juga pernah merasakan kehilangan? Inginku tanya beliau dilain kesempatan.

Hilang uang karena kebutuhan dan keinginan kadang sulit dibedakan. Apalagi jika kita orang yang boros. Sulit mengatur keuangan dimana mengeluaran dan pemasukan tidak seimbang.

Tapi hilang yang saya sebutkan barusan merupakan hilang atas dasar kesadaran. Bukan hilang literally benar-benar kehilangan seperti kecopetan atau ditipu orang misalnya. Karena saya sendiri pernah mengalami segala jenis kehilangan uang. Termasuk kehilangan karena tertipu orang.

Saya pernah kehilangan uang sekitar 2 jutaan. Kehilangan yang masih sangat membekas di ingatan saya. Padahal waktu itu mau saya gunakan untuk bayar uang semester kuliah. Parah bukan?

Lalu apa langkah kedepan? Jelas orang tuanya saya harus berhutang. Sebenarnya kejadian itu pernah saya ceritakan di blog ini sekitar 2 tahun yang lalu. Judulnya Waspadalah Saat Berada di ATM!

Silahkan baca sendiri ya sobat gurun.

Kedua, kehilangan barang.

Seberapa banyak pengalaman kalian dengan kehilangan barang? Barang yang paling sering hilang dalam hidup saya adalah flashdisk. Sudah tidak terhitung berapa kali saya kehilangan benda kecil ini.

Akar masalahnya sebetulnya karena saya pelupa. Dulu pas jaman SMP-SMA, jaman-jamannya sering ke warnet, saya sering tancapkan flashdisk ke komputer, setelah billingnya habis, saya keluar begitu saja meninggalkan flashdisk.

Saya baru sadar setelah sampai rumah. Pas kembali ke warnet, flasdisknya sudah hilang tanpa jejak. Kemungkinan terburuknya tentu flashdisk dicuri oleh orang lain. Saya tidak mau bersu'udzon kalau operator warnetnya ikut terlibat dalam konspirasi hilangnya flashdisk ini.

Pernah suatu kali saking traumanya dengan kehilangan benda yang satu ini, saya sampai mengikatkan flashdisk igu dengan tali panjang bekas gantungan kunci, lalu saya lilit ke pergelangan tangan saya. Jadi jika saya lupa mencabutnya, flashdisk itu akan ikut ketarik oleh tangan saya. Memang aneh, tapi sangat efektif mencegah flashdisk hilang.

Ketiga, kehilangan dia.

Nah, barulah kita masuk ke inti tulisan ini. Kita nyalakan dulu satu lagu yang mewakili orang-orang yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Lagunya Andji.

Oh Tuhannnn..
Ku cinta diaa..
Sayang diaa..
Rindu dia..
Dia siapaa..

Ada yang baper dengar lagu ini? Ada. Banyak. Mungkin salah satunya kalian. Atau mungkin penulis blog ini juga. Dalam banyak cerita, kehilangan seseorang yang begitu dicintai adalah hal yang paling menyakitkan.

Jika ada yang bilang bucin. Wajar. Tapi sepertinya hanya orang-orang yang belum pernah patah hati yang menyebut kehilangan dia adalah sesuatu yang le to the bay. Lebay.

Buktinya manusia sekuat apapun, sekeras apapun, kalau sudah di landa asmara sudah pasti jadi lembek. Lembek dalam arti, hatinya akan luluh dengan hal-hal yang berbau-bau romance.

Itu karena soal percintaan, semua orang akan hanyut dengan investasi emosional yang sudah kadung dibangun bersama. Maka, kehilangan seseorang adalah mutlak menyedihkan. Siapa yang tidak sedih jika orang terkasih pergi?

Seperti yang saya cerita di poin pertama dan kedua. Kehilangan yang sifatnya materiil saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi kehilangan yang nampaknya bukan saja secara fisik, tapi momen dan nostalgia juga ikut hilang.

Nah pertanyaannya, bagaimana strategi mengikhlaskan hal-hal telah hilang?

Begini.

Ada prinsip kuno yang saya terapkan sampai saat ini. Yaitu, Apa kita sadar sebelum mendapatkan sesuatu itu kita masih baik-baik saja?

Kenapa harus bersedih kalau sebelum memilikinya saja kita masih menjadi manusia normal? Kehilangan bisa dimaknai dengan bijak. Kehilangan sebetulnya bisa jadi pembelajaran agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Seperti saya yang pernah kehilangan flashdisk. Saya dapat pelajaran bahwa saya harus lebih hati-hati dan lebih teliti dengan benda-benda yang ukurannya kecil.

Atau ketika saya pernah tertipu orang sampai hilang uang jutaan rupiah, maka pembelajaran yang bisa saya ambil adalah saya harus lebih waspada dan jangan mudah percaya dengan orang yang tidak dikenal.

Begitu pun sama dengan kehilangan seseorang. Bisa jadi ada kesalahan yang pernah kita lakukan sehingga orang itu pergi meninggalkan. Dan pelajarannya, kita bisa intropeksi diri atas kesalahan-kesalahan di masa lalu bersama 'dia'. Pun demikian, harapannya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain itu, masalah kehilangan selalu ada korelasinya dengan hukum kausalitas bahwa dimana ada pertemuan, disitu pasti ada kehilangan. Itu hukum sebab-akibat yang tidak bisa ditolak kehadirannya.

Jadi wajar, jika kita memiliki sesuatu, apapun itu, pasti ada waktu dimana sesuatu itu akan hilang dengan sendirinya. Entah hilang karena pergi atau hilang karena dijemput oleh Tuhan.

Hakekatnya, sesuatu yang pernah datang pada akhirnya akan hilang. Maka, jika kita sudah mengerti konsep itu, segala sesuatu yang kita miliki dan kebersamaan dengan orang-orang kita cintai harus dimanfaatkan momen-momennya sebaik mungkin, sebelum sesuatu itu akhirnya akan hilang juga.

Foto: newspatrolling.com

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram