Ketidakberuntungan di Masa SMP

Masa-masa SMP

Tidak semua orang dalam hidupnya dikelilingi oleh keberuntungan. Sama seperti hukum alam, hidup ini selalu dibagi menjadi dua bagian yang saling berlawanan. Ketika ada yang namanya baik, pasti ada pula yang buruk. Ada kaya, pasti ada juga yang miskin. Ada besar, pasti ada juga yang kecil. Semua berjalan atas dasar keseimbangan.

Nah, ketika seseorang mengenal apa itu keberuntungan, maka sebaliknya, ada pula ketidakberuntungan. Ketidakberuntungan itu hadir dalam hal yang tidak terduga. Dan kalian pasti tahu sendiri, posisi itu sangat tidak menyenangkan.

Terkadang saya pun sering merasa berada pada fase ketidakberuntungan. Dimulai dari hal yang paling saya ingat, yaitu saat masa-masa SMP. Ketidakberuntungan yang masih sangat membekas di pikiran saya saat kecil, sesaat setelah hari kelulusan SD.

Semua murid awalnya diajak makan-makan untuk merayakan kelulusan kami bersama para guru. Saya ingat betul, kami makan di sebuah rumah makan lesehan, menyantap satu paket ayam goreng, nasi, tahu, tempe, sambal beserta lalapnya. Kami makan-makan secara melingkar. Semua murid begitu antusias.

Tak lama kami balik ke sekolah. Semua murid diberi satu persatu aplop putih yang isinya berisi nilai NEM. Saya optimis bisa mendapat nilai yang besar. Tapi kenyataan berkata lain. Saya coba bandingkan dengan teman sekelas, ternyata NEM saya adalah salah satu yang terkecil diantara teman lainnya. Sebagai anak ingusan, saya merengek nangis. Skeptis bisa masuk SMP unggulan yang diidam-idamkan.

Ibu saya memberi harapan. Katanya ia punya kenalan 'orang dalam' di salah satu SMP favorit. Saya senang bukan main. '"jongjon" kalau kata orang sunda bilang. Di lain hari saya dan beberapa teman pergi ke SMP untuk melakukan pendaftaran. Dan pada hari pengumuman tiba, saya dinyatakan tidak lolos. Yang lebih menyakitkan, semua teman saya malah lolos.

Guru saya, Pak Tatang menghantarkan saya pulang. Ia memotivasi saya agar tidak sedih. Ia mengatakan kalau saya ini sebetulnya murid yang cerdas. Walaupun saya tahu itu hanya basa-basi guru yang tak ingin muridnya bersedih hati. Lalu saya menemui ibu, bercerita apa yang sebenarnya terjadi.

Ia masih memberi harapan. Katanya 'orang dalam' tersebut masih berjuang meloloskan saya di SMP lain. Lalu ia menyuruh saya untuk daftar di SMP yang masih membuka pendaftaran. Tapi nasib buruk datang lagi. Saya tidak lolos. Pil pahit saya terima untuk kedua kalinya.

Saya setres. Sepertinya tidak ada yang bisa menerima murid sebodoh saya. Sampai akhirnya, si 'orang dalam' itu bilang ia sudah mendaftarkan saya lagi ke sebuah SMP. SMP ini satu-satunya sekolah yang masih membuka pendaftaran karena katanya kekurangan murid.

Saya sudah tidak enak hati mendengar kata 'kekurangan murid'. Dan benar saja, sekolah yang satu ini adalah SMP "pembuangan" dimana anak-anak yang tidak lolos di SMP favorit, semuanya ngumpul disini.

Singkat cerita, dengan berat hati saya pun masuk SMP itu. SMP yang kemudian saya sebut sebagai SMP antah berantah. Sebab lokasinya terpelosok dari kota. Bahkan saking terasingkannya gais, mungkin jika kalian cek di google maps, SMP ini tidak akan terdeteksi keberadaannya.

Akses dari rumah saya ke SMP ini waktu itu cukup jauh. Butuh kurang lebih setengah jam untuk sampai kesana. Ada yang bilang SMP tersebut mewah alias mepet sawah. Tidak ada yang namanya gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Tidak ada taman kota, bioskop bahkan Mall seperti yang saya inginkan.

Jadi selepas pulang sekolah, anak-anak SMP tersebut biasanya langsung pulang. Minimal nongkrong di warung, atau lari-larian di sawah. Kalau sial, ketemu entog-entog julid (semacam bebek sawah) yang suka menggigit pantat-pantat kami yang tepos ini.

Sedangkan kebanyakan anak-anak di SMP favorit, biasanya nongkrong di alun-alun kota, ngegibah di cafe, shopping di Mall atau kalau yang punya pacar, bisa nonton di bioskop terus milih kursi di pojok atas, lalu mereka akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Aastagfirullahhhh.. enak gais.

Itulah sekelumit ketidakberuntungan saya di masa SMP. Itu baru cerita sebesar upil saja. Karena masih banyak cerita yang 'sedih kalau diceritain mah'. Meski masa SMP adalah masa-masa yang berat buat saya namun saya patut bersyukur.

Bersyukur karena saya bertemu dengan orang-orang anti-mainstream yang sangat berpengaruh dalam perkembangan hidup saya sampai saat ini. Saya dikelilingi oleh teman-teman yang menghargai saya. Saya tidak pernah yang namanya kena bully walaupun saya dari dulu cupu.

Hingga saat ini, jika saya ingat-ingat lagi, masa-masa itu memang agak berat untuk djadikan kenangan yang terlalu indah. Banyak kesulitan menerpa tapi alhamdulilah ada saja yang bisa saya syukuri.

Saya belajar atas ketidakberuntungan itu memberi perspektif baru tentang hidup. Saya mengerti ada banyak hal yang membuat kesal, iri, cemburu beserta penyakit hati lainnya. Tapi tetap saja, ada pembelajaran yang selalu bisa saya petik. Bukankah begitu? Bagaimana dengan kalian?

Foto: ngertira.com

1 komentar

  1. Wah kisah kita sama yah.. tapi alhamdulilah setelah gagal di SMP, saya berhasil masuk SMA favorit berkat motivasi yg tinggi

    ReplyDelete

My Instagram