LGBT, Gempa, dan Fakta Sejarah yang Perlu Diketahui


Banyak orang percaya LGBT sebagai penyebab gempa, padahal ilmu sains sudah mengungkap fakta yang lebih masuk logika.

Gempa di beberapa daerah di Indonesia baru-baru ini bukan cuma mendatangkan tangis yang mendalam bagi semua orang, tetapi sudah menjangkiti orang-orang untuk saling menduga sebab-sebab datangnya sebuah gempa. Dunia sains dengan segala kemajuannya telah menjelaskan secara rinci penyebab gempa ini terjadi, meski belum ada yang mampu memprediksi kapan dan di mana bencana alam ini bisa muncul.

Beberapa orang melakukan pendekatan agama, menyusuri tafsir-tafsir ulama untuk mengetahui kenapa gempa ini bisa terjadi. Ada yang menafsirkan gempa disebabkan oleh perilaku manusia yang zalim pada dirinya sendiri. Kemaksiatan dan penyimpangan terhadap perintah Tuhan membuat sang pencipta marah.

Saya sering mendapat postingan tentang azab-azab Tuhan di media sosial. Tapi bukan azab pocong kesenggol angkot atau azab mayat masuk penggilingan semen, melainkan azab tentang perilaku penyimpangan seksual yang lebih dikenal dengan sebutan LGBT. Katanya, gempa di Palu dan Donggala disebabkan oleh masyarakat yang sering berbuat maksiat. Tentu dalam hal ini kesalahan dituduhkan lebih keras kepada para pelaku LGBT.

Pada sebuah diskusi kelas, saya sering menjumpai teman sesama mahasiswa yang menganggap bahwa LGBT merupakan produk globalisasi. Pelegalan terhadap pencinta sesama jenis ini disebut datang dari Barat dan diadaptasi oleh bangsa Timur, sehingga ada anggapan bahwa LGBT bukan asli ‘budaya’ Indonesia. Bahkan terrbongkarnya grup Facebook LGBT di Garut dan Tasikmalaya beberapa waktu lalu dianggap sebagai tanda-tanda akhir zaman.

Dari semua anggapan itu, saya jelas membantah. Sebelum mencocokkan keterkaitan LGBT dengan gempa, kita harusnya tahu dulu fakta sejarah bagaimana penyimpangan seksual ini bisa terjadi. Kita perlu tahu secara runut untuk mengetahui LGBT sebagai bagian dari rangkaian sejarah orientasi seksual manusia. Karena LGBT bukanlah fenomena baru, melainkan fakta sejarah yang tidak disadari banyak orang.

Sebenarnya, masyarakat modern saat ini telah lama familiar dengan pelaku penyimpangan seksual jauh sebelum istilah LGBT ada. Dalam Islam, sejarah kaum LGBT pertama dikenal oleh kisah kaum Nabi Luth. Kemudian dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Allah mengazab kaumnya sebab tidak ada pertobatan dari mereka. Namun, pelaku penyimpangan tidak berhenti sampai di situ saja.

Pada riwayat hadist Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah RA menceritakan laki-laki gemulai yang hidup di zaman Rasulullah. Kemudian beliau mengusirnya. Apa pada saat itu langsung terjadi gempa? Tidak juga.

Di masa kekhilafahan Bani Umayah, banyak khalifah yang menjadi pelaku LGBT. Salah satunya Khalifah al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang mengidap homoseksual. Kemudian penyimpangan seksual terulang kembali di masa Khilafah Abbasiyah. Bahkan pada masa ini LGBT di kalangan khalifah sudah menjadi rahasia umum. Apa saat itu langsung terjadi gempa? Tidak ada riwayat sejarah yang menuliskan terjadinya gempa setelah banyak khalifah melakukan homoseksual.

Di Indonesia, fenomena LGBT sudah ada sejak masa kolonial. Praktik homoseksual dilakukan oleh beberapa pegawai pemerintah Belanda dan masyarakat pribumi.

Dalam buku karya Amen Budiman berjudul Gay Pilihan Jalan Hidupku: Autobiografi Seorang Gay Priyayi Jawa Awal Abad XX yang menceritakan otobiografi Soetjipto tentang cinta pertamanya pada seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter. Apa pada masa kolonial itu terjadi gempa untuk menunjukan bahwa Tuhan marah? Sayangnya tidak pernah terjadi.

Di beberapa suku di Indonesia, kisah LGBT ikut mewarnai sejarah. Misalnya di Jawa, kesenian reog Ponorogo memperlihatkan peran Warok yang sering melakukan hubungan homoseksual dengan Gemblak, sebutan bagi lelaki berparas tampan.

Di suku Bugis, bahkan jenis kelamin atau gender tidak hanya dibedakan antara perempuan dan laki-laki, namun dibagi menjadi 5 gender, yaitu oroane (pria), makunrai (wanita), calalai (wanita berpenampilan layaknya pria), calabai (pria bernampilan layaknya wanita), dan bissu (sosok yang tidak jelas jenis kelaminnya).

Di lingkungan sosial saat ini, orang-orang menyimpang secara seksual tanpa disadari sudah dianggap fenomena biasa dan terkadang dibincangkan sebagai bahan guyonan lelaki normal. Di masa sekolah sampai kini kuliah, saya selalu punya satu atau dua teman lelaki di kampus yang agak melambai bahkan ada yang secara terang-terangan mengakui dirinya tidak tertarik pada lawan jenis.

Namun, teman-teman saya sering melihatnya sebagai objek tertawaan, namun setelah itu situasi berjalan normal. Tidak ada bully-bullyan atau pelaku dilaporkan kepada pemuka agama agar di rukiyah. Mereka tetap bisa berbaur dengan semua orang meski jarang diajak melakukan aktivitas yang bersifat maskulin seperti main bola.
baca juga: Provokasi 'Ndeso' dan Boikot LGBT
Pelaku penyimpangan seksual mulai dianggap tabu ketika sudah masuk pada ruang publik. Mereka dianggap hina dan tidak pantas hidup. Kemudian banyak orang mengaitkannya sebagai penyebab gempa dan tanda kiamat sudah dekat.

Padahal, seperti yang saya jelaskan panjang lebar sebelumnya, LGBT ada pada setiap zaman, mereka hadir di zaman ketika Rasullullah masih hidup, mereka berkembang biak selama berabad-abad dan masih hidup di abad 21 sampai sekarang. LGBT selalu punya cerita tersendiri di setiap negara, di belahan dunia mana pun.

Mereka yang dianggap tidak normal secara seksual telah menjadi fenomena sosial yang biasa. Mereka menjadi bagian kehidupan dan mengisi pertemanan semua orang. Mereka akan selalu ada setiap zaman meski selalu ada ‘pembasmian’ lewat jalur-jalur hukum maupun sanksi sosial masyarakat.

Apa saya pro-LGBT? Tidak. Meski saya mengutuk keras tindak LGBT, tapi saya tidak pernah mengaitkan LGBT sebagai penyebab gempa yang justru lebih banyak membawa kesedihan dan hilangnya ribuan nyawa tak bersalah. Saya lebih suka mengakui pelaku LGBT sebagai realitas sosial yang nyata, terlepas dari baik dan buruknya penilaian di masyarakat.

ilustrasi: MSN.com

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram