[Resensi Buku] Novel “Ayah” Andrea Hirata, Kisah Cinta Sabari pada Marlena dan Anak tirinya


Dalam cinta, pengorbanan adalah kunci segalanya. Sekalipun tak pernah diharapkan, pengorbanan seseorang akan melahirkan kisah inspiratif yang baik untuk ditiru semua orang. Dan Cinta Sabari membuktikan bahwa hal itu benar~

Sebagai penggemar Andrea Hirata, saya terkadang mengeluh tentang karya-karya yang fenomenal. Andrea tidak pernah mau keluar dari konsep cerita dari novel pertama yang melambungkan namanya, Laskar Pelangi. Kisah-kisah di Belitung selalu menjadi latar utama sekalipun cerita dan tokohnya berbeda. 

Tetapi setelah membaca buku ini, saya seperti harus memberi apresiasi besar kepada Andrea karena berani menghapus popularitas Laskar Pelangi dan mencoba tidak mendompleng Belitung, Ikal, Lintang dan tokoh-tokoh Laskar Pelangi lainnya. Novel “Ayah” merupakan novel pertama Andrea yang tidak punya sangkut paut dengan para tokoh Laskar Pelangi. Hal ini yang membuatnya menjadi kisah yang berbeda dan unik. 

Review Novel "Ayah" Andrea Hirata

Dilihat dari judulnya, pembaca tentu bisa menebak kemana kisah ini akan bercerita. Sabari sebagai tokoh "Ayah" di novel ini, merupakan seorang yang sangat mengenaskan. Cintanya pada Marlena, anak juragan batu bata bukan saja bertepuk sebelah tangan tapi sudah ditolak secara menjijikan. 

Marlena atau Lena adalah sosok wanita cabe-cabean, playgirl yang suka gonta-ganti pasangan meski ia tidak pernah pakai celana gemes atau tanktop kekinian. Berbalik dengan itu, Sabari adalah sosok lelaki setia, karena Marlena, cinta pertamanya sejak SMP tak pernah ia lupakan sampai akhir hayat. Puncak dari kebejatan Marlena adalah ketika ia hamil diluar nikah, tentu bukan oleh Sabari, tapi oleh lelakian lain yang saking banyak jumlah pacarnya, Marlena sampai lupa siapa yang telah menghamilinya. 

Sabari yang bekerja di perusahaan batako Ayah Marlena, akhirnya harus dikorbankan. Demi menutupi aib keluarga, Sabari dinikahkan dengan Marlena. Sabari senang bukan main ketika ia sudah mendapat restu untuk menjadi suami Marlena. Namun setelah menikah dan tak lama setelah anaknya lahir, Marlena sudah minggat dengan lelaki lain. Ngenes sekali hidup Sabari. Untungnya dia diberi namanya Sabari alias sabar. Hidupnya memang sabar. Sabar menerima segala tingkah laku bejat cinta pertama dan terakhirnya itu.

Bila kita kaitkan dengan novel karya Pidi Baiq, Sabari merupakan antitesis dari sosok Dilan. Sabari buruk rupanya dan miskin dompetnya. Tak punya motor untuk ngecengin cewe-cewe aduhai macam Milea, apalagi hanya untuk meramal, sebab meramal merupakan perbuatan musyrik. jika ia bisa meramal, seluruh penduduk kampung pasti akan membakarnya hidup-hidup. 

Namun untuk mencintai Lena, Sabari hanya punya kesetiaan dan sebuah buku juara harapan lomba puisi tingkat sekolahan. Sabari berkali-kali menulis puisi untuk Marlena tapi tidak pernah dihiraukan. Padahal dulu Marlena punya hutang budi pada Sabari karena telah mencontekan hasil ujian padanya.

Ketika anak Marlena lahir, ia diberi nama Zorro. Anak yang tumbuh baik di tangan Sabari seorang. Walaupun Zorro bukan anak kandungnya, Sabari sangat mencintainya, lebih-lebih dari cintanya pada Marlena. Setelah lama pergi, suatu hari Marlena kembali, bukan untuk menemui Sabari, tetapi untuk mengambil pergi Zorro. 

Disinilah titik dimana Sabari kehilangan harapan hidupnya. Ia menjadi orang setengah gila, pergi meninggalkan rumah reotnya dan memilih tinggal emperan pasar Tanjung Pandan. Sahabat karibnya, Ukun, Tamat dan Toharun merasa kasihan. Mereka merasa perlu berbuat sesuatu. Menemui Marlena atau membawa Zorro kepangkuan Sabari agar kesehatan mentalnya bisa kembali pulih. 

*

Andrea Hirata selalu punya sisi jenaka dan lucu dalam menceritakan kisah dalam novelnya. Hal ini yang membuat saya terpingkal-pingkal, terlebih dengan sosok kucing bernama Abu Meong yang dinarasikan sebagai tokoh hewan yang punya nasib sama dengan Sabari: ngenes sengenes-ngenesnya. Novel ini juga meninggalkan kepiluan yang mendalam pada sosok Sabari yang ternyata di angkat dari kisah nyata teman Andrea sendiri. 

Saya tak pernah habis pikir bahwa sosok lelaki ngenes seperti Sabari benar-benar ada dalam dunia nyata. Jadi, bagi pembaca yang merasa hidupnya ngenes, tak perlu berkecil hati karena sosok Sabari bisa membuat hidup anda sadar bahwa anda tidak sendirian. Yang paling indah adalah ketika Sabari akhirnya tiada dan meninggalkan sebuah kata puitis dalam makamnya, berbunyi "Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu."

Novel ini memadukan genre antara humor dan kesedihan. Kedua hal yang besebrangan namun memiliki efek yang mujarab sebagai novel yang menghibur. Novel setebal 400 halaman ini baik dibaca dikala suka dan duka sehingga tidak akan membuat otak anda pening seperti membaca buku-buku politik.

+++
Judul: Ayah (sebuah novel)
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka; Yogyakarta
Penyunting: Imam Risdiyanto
Perancang Sampul: Andreas Kusumahadi
Cetakan: 1, Mei 2015
Tebal: 412 halaman

Gambar: dok. pribadi

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram