Rutin Menulis Jurnal Harian


Dari beberapa kelas menulis yang saya ikuti, saya rasa tidak ada gunanya kalau kegiatan menulis ini tidak dilatih. Sebanyak apapun saya menghadiri kelas atau seminar menulis, ilmunya akan menguap begitu saja kalau tidak segera di praktekan.

Sejak lama, saya mengalami banyak kesulitan dalam belajar menulis. Masalah paling mendasarnya adalah malas. Kalau soal malas, obatnya ada di motivasi. Dan proses mendapatkan motivasi itu sudah dan sedang saya usahakan hingga sekarang.

Kesulitan selanjutnya adalah mengembangkan ide. Tapi, penulis sekelas Tere Liye atau Andrea Hirata sekalipun masih mengalami kesulitan itu sampai sekarang. Bedanya, jam terbang mereka dalam menulis sudah sangat tinggi. Jadi proses pencarian ide itu tidak sesulit orang-orang awam seperti saya.

Dalam prosesnya, jika saya hanya berkutat ke masalah malas dan susah mengembangkan ide, sampai kapanpun kualitas tulisan saya tidak akan meningkat. Jalan keluar yang saya lakukan sejak lama adalah menulis apa yang saya bisa. Saya tidak memaksakan menulis sesuatu yang terlalu berat dulu.

Sejak SMA saya memutuskan melatih kemampuan menulis saya dengan membuat jurnal harian. Sebab jurnal harian ini merupakan metode pelatihan menulis yang bagi saya mudah untuk di praktekan.

Menulis jurnal harian jauh lebih mudah untuk melatih kemampuan menulis saya dibandingkan harus menulis tulisan opini, feature, cerpen bahkan esai ilmiah. Yang saya lakukan ketika menulis jurnal harian hanyalah bercerita dan menuliskan hal apapun yang saya pikirkan.

Kegiatan itu sudah saya lakukan selama kurang lebih 3 tahun berturut-turut sampai saya kuliah. Saya menulis jurnal harian hampir setiap hari. Walaupun kadang ada jeda, satu atau dua hari karena alasan lupa, kecapean dan lain sebagainya. Tetapi, secara keseluruhan kepenulisan jurnal harian saya termasuk sangat rutin.

Sampai sekarang pun saya masih sempat menulis jurnal harian meski tidak sesering dulu. Namun itu dikarenakan saya sudah menemukan gaya melatih menulis yang baru dan mengalihkan kepenulisan saya ke genre tulisan yang lain.

Apa yang saya tulis di jurnal harian? Apapun. Inti dari menulis jurnal harian adalah mengeluarkan semua yang ada di isi kepala. Hal-hal yang ingin saya ceritakan, curhat, kegelisahan, atau semua hal yang saya pikirkan selama seharian penuh dituangkan dalam bentuk tulisan.

Biasanya saya menulis di malam hari. Menjelang saya tidur. Itulah kenapa tulisan jurnal saya sebagian besar isinya curhat tentang sesuatu yang terjadi sehari-hari. Saat menulis, saya berusaha merangkum kejadian demi kejadian dari hari-hari yang telah saya lewati.

Selain melatih kemampuan menulis, yang saya rasakan ketika membuat jurnal harian adalah perasaan yang lega. Isi kepala saya terasa ringan karena terasa seperti mengalihkan beban yang ada di pikiran.

Saya rasa sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa menulis bisa jadi terapi psikologis. Jadi tidak ada salahnya untuk dicoba. Selain bisa produktif dalam melatih kemampuan menulis, membuat jurnal harian juga dapat jadi metode self healing.

Kegiatan menulis ini memang terlihat sederhana. Tapi kalau di lihat-lihat lagi, kegiatan menulis jurnal harian ini ternyata telah membentuk dan meningkatkan kualitas tulisan saya sampai sekarang.

Dan meski sederhana, kalau tidak punya niat yang besar, menulis jurnal harian hanya akan bertahan dalam hitungan minggu atau bulan saja. Karena saya pernah merasakan sendiri, akan ada godaan malas dan penyakit bernama lupa untuk konsisten menulis jurnal harian ini setiap hari.
Follow Instagram: @Daffa_Ardhan

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram