Belajar Bodo Amat

Bodo amat
Tutup telinga. Jangan didengarkan.
Mungkin sebagian dari kita tahu tentang buku berjudul Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat yang sempat viral beberapa waktu lalu. Saya sangat tertarik membacanya.

Namun hingga berbulan-bulan lamanya, saya belum sempat membaca. Lebih tepatnya belum punya budget untuk membeli bukunya. Namun tak lama setelah itu, tiba-tiba adik saya meminjam buku itu dari temannya. Ia baca dan saya pun baca.

Jujur, saya tak baca seluruhnya. Saya hanya baca sekilas-sekilas saja. Ada alasan penting kenapa saya tidak membaca itu secara runut sampai selesai . Masalahnya, garis besar dari isi buku tersebut saya rasa sudah saya pratekan sejak lama.

Sikap bodo amat sudah jadi makanan sehari-hari saya. Meskipun dalam beberapa hal saya terlihat overthink, tapi sesuatu yang bagi teman saya jadi masalah malah saya sendiri tak mempermasalahkannya.

Saya tak pernah punya masalah sama orang. Apalagi sampai cari-cari masalah. Bagi saya itu buang-buang waktu. Saya pernah heran ketika ada teman saya yang overthink dengan omongan orang lain.

Selama ini saya tidak pernah mengerti kenapa banyak orang mempermasalahlan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu di permasalahkan. Bagi saya, sesuatu yang sepele seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Contoh kecil yang sering terjadi di circle pertemanan saya misalnya, dalam sebuah kelompok, kadang antara satu anggota dengan anggota lain berdebat. Kadang ketika dihadapkan pada satu masalah, satu sama lain saling menyalahkan.

Hal-hal yang seperti ini yang sering memicu konflik dalam kelompok. Saya sering menemui kasus-kasus ini pada teman-teman saya. Tapi syukurnya ini tidak pernah terjadi pada saya. Kenapa? Saya lebih memilih mengalah dan tidak pernah mempermasalahkannya. Bahkan dibahas pun tidak.

Pernah ada satu anggota yang tidak bisa mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi tugasnya. Biasanya anggota ini jadi bahan olok-olok anggota lain. Bahkan dibahas panjang lebar.

Tapi yang saya lakukan cenderung mengabaikannya. Dalam arti saya tidak menganggap kelalaian anggota yang satu ini sebagai masalah. Saya cenderung membiarkan orang ini menjalankan sesuka-sukanya. Toh nanti teman-teman lain yang menegur.

Kalaupun tidak, pada akhirnya dia yang akan rugi sendiri. Rugi disini sifatnya bisa jangka panjang. Di masa depan atau setidaknya di lain kesempatan, cara dia meyelesaikan pekerjaan akan kacau karena dulunya tidak pernah mau belajar dari tanggung jawabnya dalam menjalan tugas.

Saya cenderung memilih menghindari konflik sekalipun ada orang yang bermasalah sama saya. Saya berpikir, saya harus mengontrol mood dan setres saya. Itulah kenapa kalau ada masalah dengan seseorang atau kelompok saya memilih untuk tidak mempersalahkannya.

Saya tetap menjalannya seolah tidak pernah ada masalah. Karena jika saya punya masalah dengan satu orang saja, maka itu akan memganggu mood saya seharian. Makannya, daripada mood saya hancur dan malah bikin saya setres alias kepikiran, lebih baik saya menghindari konflik dengan seseorang.

Hal itu yang sudah saya lakukan sejak jaman sekolah. Kalaupun dalam sebuah pertemanan atau kelompok sedang ada masalah, lebih baik diselesaikan hari itu juga. Agar nanti kedepannya masalah tidak semakin besar.

Sederhananya begini.

Kalau di kampus atau di lingkungan kerja sedang ada masalah, saya cenderung tidak akan membawa masalah itu sampai ke rumah. Karena bisa saja di rumahpun saya sedang ada masalah. Jadi masalah di rumah saja belum selesai, apalagi ditambah dengan masalah dari luar.

Siapa juga orang yang mau punya masalah? Saya rasa tidak ada. Masalah kadang muncul dari ego sendiri. Perasaan seperti tidak terima, iri, benci, dan emosi-emosi negatif bisa memicu masalah baru.

Jadi saya rasa seseorang yang ingin meminimalisir masalah di kelompok maupun circle pertemanan, mungkin bisa belajar menurunkan ego atau emosi-emosi negarif dalam diri sendiri.

Hal yang terpenting dari semua itu menurut saya kita harus belajar bodo amat. Bodo amat dalam hal tertentu bisa memberi kita input yang positif, entah itu dalam bentuk mood dan kepercayaan diri.

1 komentar

  1. Saya setuju. Sebagai seorang introvert, saya terkadang overthinking, dan kalau ada masalah bisa jadi semakin overthinking. Jadi, saya mesti bisa memanage pikiran agar tidak overthinking, yaitu dengan cara bersikap bodoh amat, emangnya gue pikiran. Pusat dari masalah bisa jadi berada di dalam pikiran kita sendiri. Intinya kita mesti positive thinking agar tidak menambah masalah

    ReplyDelete

My Instagram