Puisi Dua Pekan #2

Antologi puisi menghayati

Jangan Salah Paham

Jangan salah paham
Jika aku lelah dalam gelisah
Tak tahu harus berbuat apa
Sedih rasa yang hanya bisa di utarakan

Jangan salah paham
Jika aku merajuk takut
Dalam himpitan kenyataan buruk
Dan terpaksa menelan pil pahit

Jangan salah paham
Jika aku memimpikanmu
Lebih sekedar bunga tidur
Hanya bukti kalau kamu masa laluku

Jangan salah paham
Jika aku memikirkanmu dalam lamunan
Mendekam geram
Sebab pertemuan pun akan jadi hancur

Jangan salah paham
Jika aku masih membuntutimu dalam pikiran
Melayang-layang dengan khayalan
Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa

Gelisah Masa Depan

Apa yang kurang dari dirimu sekarang?
Manusia yang belum punya masa depan
Siapa bilang kamu bisa bertahan?
Dengan cobaan yang terus berdatangan

Tuntutan hidup sudah di depan mata
Akan menjemputmu dengan paksa
Kamu pikir akan ada hal buruk disana
Yang siap menyerangmu kapan saja

Cukup lama sakit tertusuk dalam benak
Menyakiti pikiran dengan keras
Rasanya ada yang menyumbat di ulu hati
Sebab tersiksa dengan bebannya sendiri

Tentang yang akan terjadi di masa depan
Kamu mencoba terus renungkan
Namun pikiranmu sudah gerah kepanasan
Karena tak sanggup menerima kenyataan

Pikiranmu kacau meradang
Lalu kamu coba menarik nafas panjang
Dan rasa kantuk itu mulai datang
Kamu tahu otakmu butuh istirahat dengan tenang

Di Masa Itu

Kamu pasti ingat masa-masa itu
Dimana siang seperti tak kenal malam
Satu hari terasa seperti beberapa jam
Dan seminggu hanya terasa sehari saja

Itu terjadi antara kamu dan dia
Diam-diam saling menyembunyikan rasa
Berbicara sangat mengenal malu
Setiap jumpa selalu mendecak kalbu

Bahkan orang di sekitarmu tahu
Kamu dan dia sama-sama malu
Untuk berucap saja rasanya kaku
Mulut itu seperti tertahan sesuatu

Pertemuan tak berlangsung lama
Sampai lupa kapan terakhir kalian berjumpa
Ada banyak momen yang kamu ingat
Tentang masa-masa indah itu

Sayangnya semua sudah lama berlalu
Yang datang akhirnya pergi sendiri
Kamu merasa dunia memtertawakanmu
Tak kuat rasanya menanggung malu

Sesakmu Kini

Seperti menganjal di hati
Menusuk sanubari
Sakitmu karena sesak di dada
Tak rela dengan kehilangan

Lama nian rasa ini mengganggu hidupmu
Namun sakit tak bisa menyembuhkan
Tangismu menyiram seluruhnya
Sebab hati perih tak ada obatnya

Kamu coba menerima
Mengikhlaskan kepergian
Agar sesakmu segera hilang
Hatimu tenang

Namun apa yang dirasa
Sudah menumbuhkan luka
Waktumu tak bisa dikembalikan
Sesakmu membekas tak bisa dihilangkan

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram