Bersyukur Saja, Masa Susah!?

Arti bersyukur

Ada satu momen dimana saya sangat membenci dengan orang yang namanya Daffa Ardhan. Yang tidak lain adalah saya sendiri.

Saya pernah menyesali sesuatu sudah berlalu. Adakalanya saya protes sama Tuhan, "Tolong dong ulang lagi! Kasih kesempatan, sekaliiii aja!"

Terkadang saya bernazar tentang hal-hal bodoh seperti bilamana saya diberi satu keberuntungan, saya akan melakukan A, melakukan B dan seterusnya.

Saya akui ada masa dimana saya merasa tidak seberuntung orang lain. Yap, setiap orang hakekatnya punya keberuntungannya masing-masing. Tapi, ya, seperti manusia yang penuh kekhilafan, sulit bagi saya mengambil pelajaran dari masa lalu.

Rasa syukur hampir tidak pernah terlintas dipikiran saya. Rasa cukup hampir tidak ada dalam kamus hidup saya.

Yang ada hanya bagaimana caranya saya mendapat apa yang saya mau, apa yang saya inginkan. Hingga momen terburuk dari itu semua hanya mengeluh, mengeluh dan mengeluh.

Lagipula, manusia mana yang tidak pernah sekalipun dalam hidupnya mengeluh? Saya rasa tidak ada. Hanya saja, cara dan berapa lama dia mengeluhnya pasti berbeda. 

Saya tahu tidak mudah untuk menerima kenyataan ketika apa yang kita inginkan malah menjadi milik orang lain.

Namun, di sisi lain, saya menyadari terlalu terobsesi dengan keinginan sendiri tidak akan ada habisnya. Kita memang selalu menuntut diri lebih dan lebih.

Saya rasa penting bagi kita untuk menyadari makna bersyukur. Dan ketika saya menyelami makna bersyukur yang sebenarnya, hati saya lebih lega. 

Meski sesekali rasa tak menerima itu datang, menghujani pikiran negatif. Tapi saya berusaha membelokkannya ke arah yang positif.

Saya tahu saya masih perlu banyak belajar. Saya belum pandai bersyukur seratus persen.

Tapi setidaknya saya mau belajar, mau mencoba menikmati apa yang telah saya punya daripada setres memikirkan apa yang tidak ada dalam diri saya.

Di tengah kesulitan berperang dengan kerasnya hidup, memang tidak mudah untuk setidaknya bersyukur, "oh saya punya ini, oh saya punya itu. Belum tentu orang punya apa yang kita punya. Belum tentu orang mampu berada di posisi kita sekarang." dan seterusnya.

Simple to say but hard to do.

Syukur itu kalimat sederhana tapi sulit untuk dilakukan. Ganjalan utamanya sebetulnya kita terlalu punya ego tinggi. Kita selalu berpikir untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang kita punya sekarang.

Coba pikirkan berapa banyak orang yang menginginkan ada di posisi kita? Jika kita merasa "Ah, ga ada! Siapa juga orang yang mau jadi aku. Hidupku ancur begini."

Kata siapa?

Coba lebih dalam lagi melihat ke bawah. Kita bisa kuliah, diluar sana banyak yang ingin kuliah tapi tidak bisa. Kita punya pekerjaan, sedangkan diluar sana ada orang yang pengangguran dan memimpikan punya pekerjaan.

Kita punya anggota keluarga yang masih lengkap. Diluar sana ada yatim dan  piatu  yang bermimpi ingin punya keluarga.

"Ah keluargaku juga berantakan. Broken home, buat apa punya keluarga kalau kacau balau."

Bukan itu esensinya, bambang.

Yang mesti kita lakukan adalah melihat kondisi buruk hidup kita dengan perspektif yang berbeda. Meski keluarga tidak sedamai yang orang kira, tapi poin utamanya kita masih punya keluarga.

Jika seandainya ada anggota keluarga yang kita benci, lantas mereka meninggal, siapa juga yang tidak sedih?

Memang, bersyukur itu tidak semudah yang di bacotkan oleh para motivator manapun. Tapi mulailah dari yang bisa kita syukuri. Hal-hal yang bisa membuat kita bahagia.

Sesederhana seperti kita mensyukuri kuota internet masih ada. Mensyukuri warteg depan kampus belum baik. 

Atau, sekedar bersyukur melihat gebetan tidak jadi malam minggu dengan pacarnya karena mobilnya hancur karena  diamuk massa mahasiswa kemarin. Sesederhana itu, apa kita tidak bisa melakukannya?

Foto: thayyiba.co

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram