Hati-Hati dengan Investasi Emosi

Investasi emosi

Orang-orang bijak soal asmara pernah mengingatkan kita agar berhati-hati dalam melibatkan interaksi yang mendalam dengan lawan jenis. Sebab kalau salah-salah, bisa repot.

Bisa jadi salah satu pihak ada yang memendalam rasa, tapi pihak lain menganggapnya biasa. Kesalahpahaman soal kedekatan keduanya bisa jadi kompleks kalau tidak segera diakhiri.

Wajar memang kalau dalam interaksi antara kamu dengan lawan jenismu menimbulkan hubungan yang lebih dari sekedar teman. Toh manusia punya hati.

Ada yang bilang, kita bisa naksir atau sekedar suka dengan siapa saja. Namun kita tidak akan pernah tahu akan jatuh cinta pada siapa. Karena rasa suka dan jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta adalah dua hal yang berbeda.

Seringkali dalam proses interaksi dengan siapa saja, kita terlalu melibatkan hati sehingga hal-hal yang wajar bisa dianggap spesial. Satu hal mendasar yang membuat seseorang akhirnya menjatuhkan hatinya untuk seseorang adalah karena faktor investasi emosi.

Investasi emosi ini merupakan tindakan-tindakan kecil yang kita lakukan untuk seseorang. Mesti tak disertai atas dasar ketertarikan, tapi secara tidak sadar itu akan memunculkan "rasa". Rasa ini bisa jadi bibit-bibit ketertarikan emosional pada seseorang.

Jika kita meluangkan waktu untuk seseorang, entah itu sekedar mengobrol, mengajak makan bahkan pergi bersama ke suatu tempat. Artinya kita telah mencicil investasi emosi kita padanya.

Sama seperti konsep investasi pada umumnya, interaksi kita pada seseorang, jika dilakukan terus menerus, maka akan membesar dan hubungan antara kamu dan dia akan teringkat dengan sendirinya.

Ketika sudah punya "ikatan", hanya ada dua kemungkinan. Pertama, kita memilih untuk menjalin hubungan pertemanan yang intim. Kedua, kita memilih melibatkan hati pada seseorang dengan maksud ingin menjalin hubungan asmara.

Kalau sudah begini, itu kembali lagi kepada diri kita sendiri. Masalah yang banyak bermunculan ketika kita sudah melakukan imvestasi emosi adalah terkadang investasi itu menjadi sia-sia. Kenapa? Sebab orang yang sudah kita investasikan emosinya terkadang punya respon yang berbeda.

Misalnya, kita sengaja melakukan investasi emosi pada orang yang kita sukai. Kita sengaja mengobrol lebih sering, bertemu lebih sering, menghabiskan waktu lebih sering dari biasanya dengan dia.

Tapi dia sendiri menganggap investasi emosi itu hanya sebatas pertemanan. Ini yang akhirnya orang-orang kekinian sebut sebagai friendzone.

Friendzone merupakan posisi yang tidak enak. Kita tidak bisa menganggap kedekatan kita atas dasar kedekatan emosional. Jadi interakasi kita dengan dia selama ini hanya dilakukan satu arah.

Kita melakukan investasi emosi sedangkan dia tidak melakukan hal yang sama. Padahal, salah satu tanda investasi emosi kita berhasil adalah dia akan sama-sama melakukan investasi emosi yang seimbang.

Itulah kenapa investasi emosi bisa jadi bahaya, sebab banyak orang yang sejak awal tidak pintar membaca tanda-tanda bahwa pihak yang kita ingin investasi emosikan tidak melakukan investasi emosi yang sama besarnya seperti yang kita lakukan.

Maka dari itu, jangan mudah melakukan investasi emosi pada seseorang yang kira-kita tidak akan melakukan investasi emosi yang sama pada kita.

Investasi emosi bukan hanya berbentuk interaksi face to face, tapi bisa pula dalam bentuk komunikasi digital seperti chatingan atau bahkan stalking.

Sama seperti investasi di dunia nyata, investasi emosi di media sosial pun jangan sembarangan. Chatting adalah salah media yang baik untuk investasi emosi pada seseorang. 

Bahkan ada banyak cerita dari orang-orang yang terlanjur merasa nyaman setelah melakukan investasi emosi lewat chat. Sampai ada yang tidak rela kalau seseorang yang sering di chat dengannya tiba-tiba hilang. 

Ada pula orang yang gara-gara sering chat saja bisa jatuh cinta. Padahal, mungkin belum pernah melihat wajah orang yang sering di chat itu. Anehnya rasa cinta itu datang.

Itulah keajaiban dari investasi emosi. Setiap chat yang terkirim, seseorang terkadang memasukan emosi yang positif sehingga percakapan lewat chat terasa intim dan menimbulkan adicted.

Yang berbahaya sebenarnya investasi emosi yang dilakukan lewat stalking. Dengan stalking media sosial seseorang, apalagi dilakukan sesering mungkin, hal itu akan menciptakan ketergantungan.

Akhirnya kita sulit lepas dari aktivitas stalk itu. Yang meyedihkan, jika orang yang kamu stalk adalah orang yang tidak terlalu mengenalmu bahkan mungkin orang itu sudah memiliki pasangan. Ups, jangan ditiru guys!

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram