#8 Dibalik Nulis: Random Aja! Bikin Tulisan Apapun yang Ingin Ditulis

Belajar nulis

Kalau kalian mengikuti setiap tulisan saya di DaffaArdhan.com, maupun di Kompasiana dan Geotimes. Kalian akan sadar kalau tulisan saya itu random. Hari ini bahas politik, tiba-tiba besok bahas humaniora.

Ya, politik dan humaniora sih masih enggak terlalu jomblang berbedaannya. Tapi kadang saya nulis tentang politik, dilain hari saya nulis cinta-cintaan. Bisa juga, hari ini bikin tulisan opini, kritik pemerintah, kritik jokowi, eh besoknya bikin puisi galau-galau bucin. Kan random ya.

Sebetulnya saya ini mau konsen di topik apa? Blog ini juga enggak jelas mau di fokusnya di niche apa.

Coba kita flashback sebentar.

Jadi, dulu itu daffaardhan.com masih pakai domain blogspot.com, semenjak saya ganti ke domain TLD, saya mulai serius ngeblog dan mulai menargetkan satu topik tulisan. Saya ingin blog ini fokus di satu tema saja.

Pada waktu itu, saya ingin fokus ke tulisan yang berkaitan dengan entertaiment. Semisal bahas film yang bisa di review atau atau mengomentari Music Video yang lagi trending.

Tapi fokus pada satu topik saja ternyata sulit. Sedangkan sebenarnya, saya sedang semangat-semangatnya merambah semua jenis tulisan.

Kalau saya hanya terfokus pada satu niche, produktifitas nulis saya akan terhambat. Apalagi saya tidak punya waktu dan budget yang besar untuk menonton film-film di bioskop.

Jadi saya menurunkan idealisme saya. Saya mulai melenceng dengan menulis artikel yang ringan-ringan saja. Saya nulis cerpen, puisi dan aajak karena awal saya suka nulis juga dari situ. 

Kemudian saya kembangkan lagi dengan membuat tulisan esai dan opini, dimana topik tersebut merupakan topik yang sering saya tulis juga.

Sampai akhirnya saya sepakat kalau blog ini akan menuju ke arah blog gado-gado alias blog yang serba ada.  Segala topik tulisan tersedia yang penting nulis. 

Sebab, goal utama saya menulis adalah berbagi. Berbagi cerita, pengalaman atau sesuatu yang ada dalam pikiran saya. Intinya, apapun yang ingin saya tulis, ya saya tulis.

Tidak peduli apakah tulisan saya itu faedah atau unfaedah. Yang terpenting bagi saya adalah saya tahu batasan. Batasannya adalah saya berusaha untuk tidak menulis artikel yang menyinggung SARA. Itu saja. Diluar itu saya sama sekali tidak membatasi tulisan saya mau dibawa kemana arahnya.

Jenis tulisan yang paling sulit

Jawabannya cerpen. Mungkin karena sudah lama juga tidak menulis fiksi. Jadi merasa selalu kaku kalau membuat tulisan cerita pendek. 

Sering mentok ketika harus membuat sebuah dialog antar tokoh. Dan cerpen adalah tulisan yang biasanya terbilang baik jika dibuat dalam 1000 kata atau lebih. Karena ceritanya akan terlihat lebih rinci, pembaca bisa mengenal sedikit lebih dalam tokoh-tokoh lewat narasi yang pajang. Kalau terlalu pendek, menurut saya kurang oke. Menurut saya loh ya. Ini bisa salah.

Sedangkan artikel yang biasa saya buat tidak lebih dari 800 kata. Bisa dikatakan pas untuk sebuah artikel yang dibaca sekali duduk. Dan itungannya standar bagi artikel yang biasa tersebar di blog dan media mainstream. Tergantung juga artikelnya apa. Artikel tutorial bisa lebih pendek dari itu.

Sebab terbiasa menulis artikel pendek, jadilah saya sebagai sosok blogger yang tidak bisa membuat tulisan panjang-panjang, bahkan untuk sebuah cerpen 1000 kata saja. Alasan lainnya mungkin, karena saya males. Males khayal cerita. 

Saya lebih banyak menulis apa yang telah saya lihat, dengar dan rasakan. Sedangkan cerpen, butuh daya imajinasi tingkat tinggi untuk merangkainya. Apalagi merangkai cerita yang bahkan belum pernah saya lihat dan dengar kejadian sebenarnya.

Bergairah dengan puisi dan sajak

Saya kembali menulis puisi setelah sekian lama luput dari ingatan. Terakhir kali menulis puisi mungkin pas SMA. Itupun untuk memenuhi tugas bahasa indonesia.

Dan untuk pertama kalinya saya keranjingan dengan membuat sajak. Bermula dari isengnya saya yang sesekali membuat satu bait sajak. Saya posting sajak itu di instagram. 

Dengan GR-nya, saya bergumam dalam hati, keliatannya saya berbakat menulis sajak. Kegeeran itu bercampur percaya diri. Entah kenapa, saya merasa ada kemudahan ketika merangkat bait-bait dengan rima yang sama.

Opini setengah cerita

Entah sejak kapan (kayaknya belum lama ini) saya mengganti gaya menulis opini. Biasanya, jika kalian perhatikan tulisan politik saya di Geotimes, cara menulis saya terkesan lebih akademis. Saya banyak menggunakan kalimat baku dan mengawali paragraf pertama sampai selanjutnya dengan narasi serius.

Kalau sekarang, saya menulis opini dengan lebih santai. Biasanya saya mengawali tulisan dengan bercerita atau bahkan curhat. Patokan sederhanannya, kalian bisa melihat artikel-artikel Mojok.co deh. Artikel Mojok, meski bahasannya berat, tapi kemasannya ringan, lucu dan satir.

Kurang lebihnya saya sedang berproses bergaya menulis opini seperti itu. Bukan pengen ikut-ikutan, tapi saya merasa lebih enak aja menulis kayak gtu. Karena selama ini saya baru sadar, tulisan opini yang kaku itu terlihat seperti menggurui.

Padahal, selama ini saya hanya beropini berdasarkan apa yang saya tahu. Saya tidak punya latar belakang akademis tertentu dengan title atau gelar besar. Jadi kalau terlalu akademis, kesannya saya jadi sok tahu. Nah, saya sekarang berusaha menghilangkan anggapan itu.


0 komentar:

Post a Comment

My Instagram