Pergaulan, Soal Satu Frekuensi dan Rasa Nyaman


Ketika membuat tulisan ini, saya baru saja menonton video dari channel Youtube-nya Pandji Pragiwaksono tentang pengalaman temannya menetap selama 13 tahun di L.A alias Lenteng Agung  Los Angeles.

Pengalamannya membawa satu pemikiran baru pada saya tentang pergaulan. Apa yang dibicarakan Pandji di video tersebut, ada fakta yang saya amin-kan. Hakekatnya, orang-oang memang suka mengkotak-kotakan pergaulannya.

Contoh yang diperlihatkan dalam obrolannya Pandji adalah ketika temannnya, Yafi Fayruz membenarkan kalau di L.A itu orang-orang dari berbagai negara membentuk komunitasnya sendiri dengan adanya Korean Town, Cina Town, Little Tokyo dan seterusnya.

Meski disana tidak ada Indonesia Town atau semacamnya, tapi orang indo cukup segan untuk tidak berbaur dengan sesama orang indonya sendiri. Ada sebagian bisa menyatu karena kedekatan tertentu misalnya kelompok mahasiswa yang mungkin masih merasa asing sekali hingga 'terpaksa' lebih berbaur karena satu visi: menyelesaikan pendidikan.

Tapi beberapa WNI yang tinggal dalam waktu yang cukup lama, bisa beradaptasi dan mampu bersikap mandiri untuk tidak bergantung pada sesama orang indonesia. Sehingga, berbaur dengan orang-orang indo juga merupakan sesuatu yang tidak penting-penting amat. Maybe.

Pada lingkup lain, mengkontak-kotakan pergaulan sudah begitu familiar dalam kehidupan kita. Jangan terlalu jauh membayangkan pengkotakkan dalam agama atau ras. Kita ambil contoh yang kecil saja.

Misalnya dalam circle pertemanan di sekolah, kampus atau lingkungan kerja, pasti ada yang disebut "geng" dimana si A mainnnya sama si B terus. Atau anak Ormawa gaulnya sama anak ormawa lagi. Sebaliknya mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) gaulnya sama mahasiswa kupu-kupu juga. Hal itu banyak terjadi dan memang terbentuk dengan sendirinya.

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan pengkotakkan itu sangat kental terjadi, bukan saja dengan orang indonesia tetapi orang luar pun sama?

Menurut saya ketika seseorang berada pada lingkungan baru, mereka akan merasa asing. Ketika merasa asing, mereka akan berusaha mencari kenyamanan. Kenyamanan itu akan mudah didapat dari orang-orang yang sejak dahulu punya kesamaan, culture misalnya. Maka secara otomatis, kita akan mencari kelompok yang punya kesamaan tersebut.

Kesamaan disini bisa diartikan, sama dalam asal negara (jika mereka seorang imigran asing), kesamaan budaya (orang batak berteman dengan orang batak), kesamaan etnis (orang 'cina' lebih suka bergaul dengan 'cina' juga, alih-alih bergaul dengan orang sunda tulen misalnya) dan seterusnya.

Diluar kesamaan itu. Pergaulan juga terbentuk berdasarkan satu frekuensi. Satu frekuensi artinya ada kesamaan dalam bertingkah laku, satu hobi, punya pemikiran yang sama dalam memandang satu hal. Atau alasan yang lebih simpel adalah, punya satu becandaan yang sama.

Kita pasti merasa senang kalau punya teman yang. bisa tertawa dengan satu jokes  yang sama sekalipun bagi orang lain becandaan kita garing.

Dan disadari atau tidak, sikap kita terhadap pergaulan juga menentukan diri kita yang sebenarnya. Diri kita bisa terbentuk dari teman-teman dekat kita. Walaupun tiap orang punya karakter yang berbeda, tapi saling mempengaruhi dan memberi pengaruh satu sama lain.

Tindakan kita terhadap satu hal ikut di dorong oleh lingkungan terdekat kita. Itulah kenapa ada pribahasa yang mengatakan, berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan kebagian wanginya.

Mengkotak-kotakan pergaulan memang terlihat tidak baik. Tapi dalam sisi lain, pengkotakan adalah bagian dari cara seseorang untuk terhindar dari rasa tidak nyaman, yang pada akhirnya menemukan kesenangan dalam bergaul. Dan bagi saya itu wajar dan bukan yang salah besar.

Karena setiap orang punya preferensi nya sendiri untuk mencapai apa yang membuat mereka nyaman, maka tidak aneh kalau tiap individu selalu punya kencederungan untuk pilih-pilih teman. 

Tentu, berteman itu dengan siapa saja. Tapi bergaul secara intens, pastilah kita punya kriteria tersendiri dalam menentukan siapa saja yang berhak masuk dalam circle pertemanan kita.

Foto: newsread.in

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram