Berubah karena Penyesalan

Berubah karena penyesalan

Sering sekali saya mendengar kalimat, "Kalau kamu diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Kebanyakan orang akan menjawab dengan kalimat, "Aku akan menghindari kesalahan dan mengubah jalan hidupku jadi lebih baik." Kira-kira begitu.

Saya rasa, jawaban tersebut merupakan pilihan yang akan orang-orang katakan karena  kebanyakan dari kita cenderung punya penyesalan. Terutama dengan hal buruk yang pernah dilakukan di masa lalu.

Tapi kalau saya di tanya, "Apa yang akan saya lakukan kalau diberi kesempatan kembali ke masa lalu?" Mungkin saya akan menjawab dengan jawaban yang paling logis.

Misalnya, saya tidak akan mau pergi ke masa lalu. Karena pertama, itu mustahil. Sampai saat ini saya tidak pernah percaya dengan konsep time travel.

Kedua, saya akan tanya balik, "Buat apa pergi ke masa lalu? Lebih baik diam di masa sekarang." Kalau pun saya berbuat kesalahan lalu menyesal, lebih baik saya memperbaikinya di masa yang akan datang.

Memang, setiap kali membayangkan masa lalu, saya cenderung merasa sedih. Saya merasa semua telah terlambat. Penyesalan itu pasti ada. Tapi ada alasan-alasan logis yang membuat saya berhenti memikirkan penyesalan lagi.

Semua kesalahan yang ada dalam hidup saya sudah terlanjur terjadi. Dan terus-menerus menyesal tidak akan pernah mengubah hidup saya jauh lebih baik. Justru, kalau saya hanya meratapi penyesalan, saya hanya akan sulit bangkit dan terus merasa terpuruk.

Saya tahu, sudah terlambat bagi saya untuk merubah keadaan. Tapi pada prinsipnya, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Prinsip itu yang sekarang sedang saya jalankan.

Penyesalan saya seperti, andaikan dulu saya belajar lebih giat, mungkin saya bisa lulus di kampus yang paling saya inginkan. Sekarang perasaan itu tidak muncul lagi karena saya memilih menerima kenyataan dan menerima konsekuensinya karena waktu itu saya masih malas-malasan belajar.

Saya pun pernah menyesal karena sempat berhenti menulis selama setahun. Padahal setahun itu bisa saya gunakan untuk mengasah kemampuan menulis.

Saya merasa telat belajar menulis dibandingkan dengan beberapa orang yang sudah menekuni menulis sejak SMA. Tapi tidak ada yang salah dengan kata terlambat. Yg penting saya mau belajar.

Itulah kenapa kemudian saya kembali menulis sampai sekarang. Andaikan saya menyerah begitu saja hanya karena saya merasa ketinggalan dalam menulis. Pasti hari ini saya tidak akan me-manage blog dan tulisan di instagram sampai hari ini.

Tahun 2020 ini saya rasa merupakan titik balik dari berbagai penyesalan saya di masa lalu. Dari dulu saya ingin kembali membuat jurnal harian tapi sekedar wacana. Tapi sejak 1 januari 2020, bermodal buku catatan, saya berhasil melakukannya secara konsisten sampai di bulan ke lima tahun ini.

Selain itu, di tahun 2020 saya kembali membaca banyak buku. Ini kegiatan yang diluar rencana. Tentu saja hal ini terjadi tidak lain dan tidak bukan semenjak datangnya pandemi.

Semenjak itu demi mengisi waktu di rumah, saya membaca lebih banyak buku daripada hari-hari biasanya. Tapi saya bersyukur karena kalau tidak dipaksa oleh keadaan ini, mungkin kegiatan membaca buku akan terurungkan dengan sendirinya.

Selain itu, banyak kebiasaan lain yang kemudian saya perbaiki jadi lebih baik. Dari mulai berhenti makan sembarangan dan menjaga pola makan, sampai membiasakan diri berolahraga sekalipun hanya di dalam rumah.

Hal ini saya lakukan untuk membuktikan pada diri saya bahwa menyesal dengan satu hal bukanlah akhir dari segalanya. Itu hanya step awal untuk mendorong hidup saya naik ke level yang lebih tinggi.

Kesalahan yang pernah saya lakukan tidak membuat saya berdiam diri. Justru dari kesalahan itu saya jadi tahu celahnya dan tahu dimana saya bisa memperbaikinya.

Sebab kalau seandainya saya tidak melakukan kesalahan, bagaimana saya mau belajar tentang hidup? Ketika melihat orang-orang yang lebih beruntung dari saya, kadang saya berpikir kalau saya terlalu banyak privilese, mungkin saat ini saya masih senang berleha-leha, bermalas-malasan.

Karena pada dasarnya saya tahu sendiri kalau saya ini sebetulnya pemalas. Pemalas sejak kecil. Tapi saya bisa berubah karena kesalahan-kesalahan yang ada di masa lalu.

Saya pernah menyesal dengan satu hal dan saya tidak mau penyesalan itu datang lagi. Jadi saya berusaha keluar dari zona nyaman saya dengan lebih giat mencapai target-target yang saya inginkan. Meski prosesnya sangat berat, tapi sejauh ini saya puas dengan semua usaha-usaha kecil yang saya lakukan saat ini. Follow Instagram: @Daffa.Ardhan

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram