Suka Duka Panasnya Kota

Panasnya kota

Entah berapa derajat cuaca siang ini. Yang pasti saya merasa sangat kepanasaran. 'Hareudang' kalau kata orang sunda bilang mah. Kota tempat saya tinggal sekarang memang hampir beberapa bulan ini tidak turun hujan. Tapi kata nenek saya, beberapa hari (atau beberapa minggu lalu, maaf saya lupa) hujan mulai turun sebentar.

Namun seingat saya rasanya saya belum pernah melihat sendiri hujan turun dalam waktu dekat ini. Mungkin nenek saya sedang halu atau memang sayanya saja yang terlalu betah di dalam kamar sampai tidak tahu kondisi cuaca di luar rumah.

Ini merupakan musim panas yang serupa panasnya dengan tahun-tahun sebelummya. Dan ketika musim panas melanda, saya sering merasa kegerahan. 

Padahal, saya ini termasuk orang yang tidak gampang merasa panas. Ketika ada teman saya yang mengeluh panas, terkadang saya menyanggah dengan mengatakan tidak panas.

Saya sering memakai jaket dan jarang melepasnya karena memang jarang merasa panas. Mungkin salah satu penyebabnya karena tubuh saya kurus juga. Karena setahu saya, orang yang gemuk biasanya lebih mudah merasa panas daripada orang kurus.

Tapi coba bayangkan, orang kurus dan jarang merasa kepanasan seperti saya saja, beberapa hari ini sedang merasa kepanasan luar biasa. Saya tidak pernah mengecek berapa suhunya, tapi saya rasa panasnya memang kebangetan.

Yang sering saya keluhkan dengan cuaca yang ekstrim seperti ini sebetulnya ada di rumah saya sendiri. Kamar saya di lantai dua merupakan ruangan yang kecil, lebih mirip sepert tempat sauna, saking panasnya. Dan posisi kamar tepat menghadap matahari di siang hari.

Jadi kamu bisa bayangkan betapa panasnya kamar saya. Bahkan kalau siang, tembok kamar selalu terasa panas-panas hangat kalau di sentuh.

Malam haripun juga sama. Kipas angin sudah dinyalakan semalaman, tapi tetap tidur tidak enak. Maklum rumah saya belum ada AC. Makannya di cuaca sepanas ini, biasanya saya mengulangi kebiasaan yang sama yaitu tidur di ruang tv.

Ruang tv itu luas dan tidak pengap seperti  di kamar. Jadi kalau dibanding-badingkan, ruang tv ini tidak terlalu panas. Biasanya, kalau tidak tidur di bagian sofanya, saya ambil kasur tipis dari kamar. 

Tapi, tidak terlalu panas bukan berarti adem. Saya masih harus membawa kipas angin kecil dan memakai kaos yang lebih tipis dan dingin. Kalau masih kabengetan panasnya, saya pasti bertelanjang dada alias tidur tanpa baju.

Kalau masih merasa kepanasan juga, saya melakukan beberapa hal bodoh seperti membasahi badan saya dengan handuk basah.

Yang paling extrim, saya pernah sengaja membasahi baju tidur saya dengan air dan tidur dalam keadaan baju basah. Itu saya lakukan selama beberapa kali karena ketagihan.

Ketagihan dengan betapa ademnya badan saya ketika baju basah tersenyum menempel ke kulit yang kepanasan. Sialnya, pernah suatu ketika saya masuk angin.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi usut punya usut, masuk angin itu kemungkinan besar disebabkan karena kebiasaan bodoh saya membasahi baju sebelum tidur. Ditambah kipas angin semalaman menyala.

Jadi perpaduan antara baju basah + kipas angin yang menghadap ke tubuh = kolaborasi yang keren untuk membuat saya masuk angin.

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram