#13 Dibalik Nulis: Challenge dan Mencoba Hal-Hal Baru

Melatih menulis diary

Menurut saya, hal yang paling mudah dilakukan ketika seseorang ingin belajar menulis adalah dengan membuat buku harian alias diary.

Dengan menulis pada sebuah diary, artinya kita belajar menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan. Diary merupakan media yang paling sederhana karena tulisan yang dibuat enggak perlu pake mikir keras. 

Cukup ceritakan apa kita alami saja. Terserah mau jelek atau enggak. Yang penting uneg-uneg di kepala sudah keluar dalam bentuk tulisan.

Hal itu yang saya lakukan sejak dulu. Setiap hari, sebelum saya tidur, saya membuka laptop saya dan mulai menceritakan kejadian yang saya alami selama seharian penuh. Dan cara itu sangat efektif untuk melatih kemampuan menulis.

Tapi pada satu waktu, saya pernah merasa bosan menulis diary karena saya merasa kehidupan saya enggak menarik. Enggak ada hal seru yang bisa saya ceritakan. Kalau sudah begini saya akan mengakalinya dengan cara lain.

Kalau biasanya saya bercerita berdasarkan kronologis. Misalnya pagi saya ngapain, siang makan apa, belajar apa, sorenya saya kemana, ketemu siapa aja, dan seterusnya.

Nah kali ini saya lebih bercerita apa yang saya rasakan. Jadi apa yang saya tulis bukan apa yang terjadi, tetapi apa yang saya rasakan ketika melakukan hal ini-itu, perasaan saya ketika bertemu si A, si B. Atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari pikiran saya.

Simpelnya begini.

Kalau saya menulis diary dengan gaya kronologis, maka saya akan bercerita apa yang saya lakukan secara berurutan. Tapi yang saya lakukan ketika itu berusaha bercerita atau mengomentari kegiatan tersebut.

Misalnya setiap pagi saya makan telor. Saya akan menceritakan kenapa saya suka makan telor setiap pagi.

Apa saya pernah merasa bosan, atau merasa enggak punya pilihan makanan yang bisa dimakan dan lain-lain. Ceritakan apapun yang bisa diceritakan dari sebuah kejadian sesederhana makan telor itu.

Atau, ketika siangnya saya bertemu dengan seorang teman. Saya mencoba menceritakan tentang karakter si teman itu. Dia orangnya kayak apa, fisiknya seperti apa, apa yang saya sukai dari dia dan seterusnya.

Gaya menulis diary seperti itu menurut saya lebih mengasah kepekaan dalam menulis. Selain karena saya sendiri pernah merasa jenuh dengan gaya nulis diary yang begitu-begitu saja.

Jika cara tersebut kemudian menemukan titik jenuh juga. Coba gaya menulis yang baru lagi. Saya rasa setiap orang punya kreativitas tersendiri dalam bercerita.

Setelah menulis diary dirasa sudah bukan menjadi beban, tahapan selanjutnya adalah mengeksplor lagi kemampuan menulis ke genre yang berbeda. 

Dari yang selama ini saya lakukan, saya selalu menantang diri saya dengan jenis-jenis tulisan yang berbeda. Misalnya saya belajar menulis opini. Jika sudah lumayan lancar, saya lompat ke tulisan review film. 

Review film ini punya kesulitan tersendiri. Kalau menulis opini, saya harus up to date dengan isu yang akan saya tulis. Kalau menulis review film, saya mesti jeli dalam melihat dialog, suasana, experience, dan memggali isi filmnya. 

Dari review, saya loncat lagi ke karya fiksi seperti mencoba menulis cerpen, puisi, dan sajak. Kemudian saya juga pernah mencoba iseng belajar nulis skenario, naskah drama, dan seterusnya. 

Dari semua yang saya tulis di atas, saya berusaha mengambil satu kesimpulan bahwa jika saya ingin mengembangkan kemampuan menulis, maka saya harus terus men-challenge diri saya untuk belajar genre tulisan yang berbeda-beda.

Ini juga masih nyambung ke arah explorasi dalam menulis. Jadi kita berani untuk mencoba satu persatu genre yang bisa ditekuni.

Tidak perlu semuanya dikuasai. Cukup mencoba sesekali saja untuk menambah pengalaman. Setelah itu kita akan menemukan sendiri kira-kira genre tulisan mana yang paling kita sukai.

Setiap genre tulisan pasti  ada kesulitan-kesulitannya tersendiri. Kita tidak tahu kesulitan apa yang akan di hadapi dalam menulis genre-genre tulisan tertentu.

Maka dari itulah darimana hanya berdiam diri, lebih baik banyak belajar dan selalu mencoba hal-hal baru dalam menulis. 

Foto: churchtimes.co.uk

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram