#12 Dibalik Nulis: Deadline dan Komitmen Menulis

Mengerjakan deadline

Yang masih jadi keluhan saya ketika menyelesaikan sebuah tulisan adalah deadline. Saya kadang benci sama deadline. Benci bukan berarti benar-benar cinta ya. Tapi literally emang benci.

Entah karena saya penganut mazhab santuy dan revolusi mager 4.0 atau memang sayanya yang males untuk memulai sesuatu.

Ketika lagi enggak punya gairah untuk menulis, rasanya ingin melalukan kegiatan yang lain saja. Meskipun kalau saya tunda terus-terusan, deadline akan semakin dekat.

Sesekali saya bisa memaksa diri saya melawan malas mengejar deadline. Tapi kadang susah juga buat di lawan. Karena dalam keseharian, ada ritme pekerjaan yang senantiasa berubah.

Jauh-jauh hari, saya sudah komitmen untuk menulis di pagi hari setelah sholat shubuh. Kebiasaan itu sudah saya lakukan 4 bulan terakhir ini.

Tapi dalam kesempatan lain misalnya, saya pernah bangun kesiangan. Kebetulan hari itu saya masuk kuliah di kelas pagi. Saya enggak sempat mandi. Cuma cuci muka dan gosok gigi. Ganti pakaian dan langsung berangkat.

Saya tahu, sebelum berangkat itu harusnya saya nulis dulu. Tapi karena terburu-buru, saya jadi enggak sempat menulis. Akhirnya hari itu saya melanggar komitmen saya menulis di pagi hari.

Yang bikin miris, selesai pulang kuliah saya enggak mencoba membayar komitmen yang saya langgar itu.

Saya terlalu terbiasa menulis di pagi hari. Jadi ketika hari sudah siang rasanya menulis itu jadi kurang nyaman.

Siang itu juga saya harus mengerjakan tugas kuliah, sarapan pagi yang di skip jadi makan siang, mengerjakan pekerjaan rumah, dan terakhir tidur siang untuk melepas lelah.

Sore hari, saya terbiasa santuy, buka medsos, bukan youtube atau nonton film. Gimana kalau malam hari? enggak usah di tanya lagi kalau itu mah gaes. 

Malam hari itu sebetulnya lebih cocok buat saya finishing tulisan. Jadi tulisan yang sudah saya selesaikan di pagi hari, kemudian masuk ke proses editing biar lebih rapih.

Tapi, karena pagi itu saya tidak menulis apa-apa. Jadi saya tidak mengerjakan editing tulisan apapun. Ternyata, melanggar satu komitmen saja, kegiatan menulis saya bisa kacau.

Setiap hari saya dihadapkan pada situasi yang berbeda. Saya, ataupun kita pasti merasa sudah menjalani hari-hari yang sama setiap hari. Tapi pasti ada momen dimana kita enggak bisa mengontrol apa yang terjadi di hari besok.

Misalnya, ada orang yang terbiasa menulis setelah makan siang. Tapi pada satu waktu, hari itu ada anggota keluarganya yang kecelakaan.

Akhirnya dia datang ke rumah sakit dan enggak sempat menunaikan komitmen menulisnya di siang hari. Akhirnya dia melanggar komitmennya juga kan?

Dan dari apa yang saya rasakan, komitmen yang sekali dua kali dilanggar enggak akan berpengaruh apa-apa. Tapi kalau sebuah sudah dilanggar berkali-kali, biasanya timbul rasa ketagihan untuk mengulang pelanggaran yang sama. 

Itu yang saya rasakan sendiri. Di hari berikutnya, saya enggak sempat menulis di pagi hari untuk kesekian kalinya karena harus mengurusi keperluan adik saya yang sedang ospek.

Hari keesokannya lagi, ketika kebetulan pagi-pagi itu saya enggak punya kesibukan apa-apa, entah kenapa malah saya merasa  malas menulis. Mungkin itu efek adiktif karena sudah terbiasa melanggar komitmen menulis di pagi hari.

Rasa-rasanya, membuat sebuah komitmen itu sulit. Apalagi kalau sudah sering dilanggar. Tapi berbahagialah kamu yang sudah berhasil menjaga komitmen itu dengan baik dalam kurun waktu yang panjang.

Pelajaran terpenting bagi kita semua adalah ketika kita melanggar komitmen itu beberapa hari saja, komitmen yang biasanya sudah dilaksanakan berbulan-bulan bisa kacau begitu saja.

Jadi sebetulnya yang terpenting jangan gampang mentoleransi diri sendiri buat melanggar komitmen. 

Seringkali kita merasa enggak masalah melanggar komitmen, yang penting besok masih lanjut. Padahal, sekali dua kali kita langgar, maka diri kita akan mentoleransi agar bisa melanggar komitmen itu di lain hari.

Foto: thoughtco.com

0 komentar:

Post a Comment

My Instagram